Profil

pelestarian pantai

Kong Buang Ahyar: Jawara Penjaga Budaya Pantai Utara Jawa Barat

Administrator | Jumat, 18 Oktober 2019 - 09:52:15 WIB | dibaca: 221 pembaca

Kong Buang Ahyar, jawara pantai Pal Jaya. Penggagas obyek wisata Jembatan Cinta dan Sungai Rindu. (foto Wig)

Bekasi, parahyangan-post.com- Sebut saja nama Kong Buang Ahyar di Pal Jaya  Muara Tawar, atau di sepanjang pantai utara Jawa, antara Cilincing  hingga Sungai  Buntu, Karawang, semua orang akan mengenalnya. Namanya dikenal dan ditakuti.

“Bukan ditakuti tapi disegani,”  ralat Kong Buang saat bincang-bincang santai dengan pemimpin redaksi Tabloid Alinea Baru  Ismail Lutan didampingi penyair terkenal Bekasi Wig SM dan ketua komunitas Betawi Cinta Damai (BCD) Agus Arief Setiawan, Senin siang 14/10, di lapak tenda, samping TPI  Muara Tawar, Bekasi.

“Beda, loh antara ditakuti dan disegani,” ucapnya untuk lebih meyakinkan dengan nada yang lebih tinggi.

Begitulah gaya Kong Buang Ahyar, atau sering juga namanya disingkat dengan Kong Buang AR, jika berkomunikasi dengan orang lain. Blak-blakan, menatap mata lawan bicara dengan tajam dan tanpa tedeng aling aling.  Jika belum memahami karakteristik wataknya yang khas itu, lawan bicaranya tentu akan  keder duluan. 

Tokoh unik

Nama Kong Buang Ahyar mencuat ke permukaan setelah dia bersama komunitas Betawi Cinta Damai  ‘menyulap’ pantai Pal Jaya,  yang lokasinya bersebelahan dengan PLTU Muara Tawar, menjadi obyek wisata menarik. Pantai yang tadinya kumuh, jorok dan bau, kini menjadi obyek wisata terpopuler di Jakarta belahan Timur, dengan obyek  unggulan  Jembatan Cinta dan Sungai Rindu.

Namun untuk bisa bertemu dengan Kong Buang Ahyar tidaklah mudah. Dia tidak pernah membawa HP, dan belum tentu  bersedia menemui semua orang yang mencarinya. Begitu juga yang terjadi dengan pemred tabloid Alinea Baru ini. Setelah  setengah harian mencarinya di pantai Muara Tawar, batang hidungnya pun tak kelihatan. Padahal sebelumnya sudah bikin janji. Setelah  putus asa dan mau pulang, eh dia muncul, diantar oleh salah seorang anak buahnya dengan motor.

Kemunculannya pun aneh, menurut ceritanya, dia sedang berada di  kantor polisi memeriksa lengan semua anggota polisi muda untuk memastikan mereka tidak memakai narkoba, tiba-tiba ada bisikan di telinganya, bahwa ada tamu yang mencarinya. Maka dia tinggalkan kantor polisi tersebut dan berangkat menemui orang yang mencari.

Begitulah ceritanya.  Kong Buang AR memang unik. Satu hal, dia sangat kagum kepada profesi wartawan dan seniman. Beberapa waktu lalu dia pun memfasilitasi seniman membaca puisi di TPI Muara Tawar ini.

Filosofi Nama Buang

 

Buang AR lahir tahun 1948  dari pasangan Ahyar dan Fatimah yang dikaruniai 8 orang anak dari dua isteri. Nama Kong disematkan ketika dia sudah tua dan punya cucu.

 

Kong Buang AR hampir tidak mengenyam pendidikan. “Saya bukan orang terpelajar, tapi saya suka belajar,” tuturnya polos.

Suka belajar itulah yang membuat namanya menjadi ‘legenda kecil’ di sepanjang pantai utara Jawa antara Cilincing dan Sungai Buntu, mirip Si Pitung di zamannya.

Kong Buang, gampang berhubungan dengan petinggi-petinggi di Kepolisian, TNI dan juga lingkar dalam Istana Jokowi. Pembangunan Jembatan Cinta dan obyek wisata Sungai Rindu adalah salah satu hasil, yang ia dapatkan dari CSR  PLTU Muara Karang.

Kong Buang bercerita, semasa kecil dia hidup susah, bahkan susah sekali. Ia hampir-hampir tak pernah memakan nasi. Suatu kali ibunya menanak nasi, saking kepinginnya, nasi yang masih panas dalam periuk (dandang) ia raup dengan tangan. Alhasil,  ya, tangannya melepuh dan luka.

“Ini satu-satunya luka yang pernah saya alami dan berbekas sampai sekarang, sementara luka akibat senjata tajam  seperti parang, pisau clurit, golok dan semacamnya, belum pernah,” tuturnya polos sambil memperlihatkan semua bagian tubuhnya.

Ini tentu mengagumkan, sebab semasa mudanya hampir setiap hari ia menghadapi preman-preman  bersenjata tajam. Apakah Kong Buang punya pelindung atau ilmu kebal?

“Tak usahlah aku ceritakan, nanti aku dianggap sombong pula,” tuturnya. “Pelindungku hanya satu, Allah!” tegasnya.

Kembali ke nama Buang. Kenapa Buang?

“Saya ini anak ke delapan, tetapi kakak-kakak yang di atas saya mati semua. Hanya saya yang menjadi harapan orang tua. Nah waktu itu ada kepercayaan agar saya bisa bertahan hidup saya harus dibuang. Ya, begitulah saya dibuang ke tempat lain terlebih dahulu oleh kedua orang tua saya,” ceritanya.

Percaya tidak percaya, ya nyata memang demikian. Ia berhasil hidup dan adik-adik dibawahnya juga bisa hidup. Karena dibuang itulah, akhirnya ia diberi nama Buang. Sementara Ahyar (AR) adalah nama ayahnya.

Sejak kecil Kong Buang AR sudah tertarik dunia kesenian, dia masuk grup gambang kromong, dan keliling Jakarta mementaskan pertunjukan seni Betawi. Karena berkeliling itulah ia mendapatkan pengalaman dan juga ilmu. Untuk menjaga diri, ia pun belajar seni beladiri, hingga akhirnya ia dikenal  sebagai jawara yang disegani.

“Jawara itu bukan preman. Jawara itu fungsinya mendamaikan. Jadi juru damai. Kalau ada orang mengatakan jawara adalah preman itu salah. Jawara satu tingkat di atas preman. Saya tidak pernah mencari musuh, tetapi saya selalu mendamaikan kalau ada yang bertikai dan berkelahi,” tegasnya.

Menjadi juru damai tentu harus mempunyai ilmu bela diri yang kuat, namun menurut pengakuan Kong Buang AR, ia tidak punya ilmu bela diri. Dia hanya memiliki seni bela membela, seperti silat.

“Silat itu bukan bela diri tapi seni bela diri. Membela diri itu ada seninya,” tambahnya.

Meski mengaku tidak punya ilmu silat dan semacamnya, Kong Buang kenyang asam garam pergulatan dunia keras. Bahkan batuk saja dia di bale-bale warung atau lapak-lapak sepanjang pantai utara Cilincing dan Muara Buntu, akan ada orang yang mengisi tas kecil yang selalu disandangnya itu dengan uang.

Begitulah Kong Buang AR disegani oleh semua orang. Pengaruhnya luas. Wilayah pantai hutan bakau seluas lebih kurang 250 ha, di Pal Jaya tersebut berada di bawah pengawasannya. 

Visi Budaya dan Perdamaian 

Karena sejak kecil telah suka menjadi juru damai, maka setelah menjadi enkong (kakek) pun Kong Buang AR juga bergiat untuk perdamaian. Itulah sebabnya ia aktif di komunitas Betawi Cinta Damai.

“Nanti komunitas Betawi Cinta Damai akan saya tingkatkan menjadi Indonesia Cinta Damai (ICD),” tegasnya.

Indonesai harus damai, Indonesia harus maju, tambah Kong Buang AR berapi-api, “Saya ingin buktikan bahwa anak Betawi itu cinta damai, cinta NKRI,” tambahnya.

Selain itu Kong Buang juga sudah membuatkan panggung untuk seniman dan budayawan  mementaskan karya seninya di pantai Muara Tawar ini.

“Kita bangun Indonesia menjadi bangsa yang berbudaya,” tambahnya.

Satu gagasan baru yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, bersama komunitas Betawi Cinta Damai, Kong Buang AR akan menanam sejuta pohon bakau di sepanjang pantai Pal Jaya.

“Cinta Indonesia harus cinta pantai,” tutupnya.*** (aboe)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)