Disaster

Kesiapsiagaan Keluarga Pondasi Ketangguhan Negara Terhadap Bencana

Administrator | Jumat, 27 April 2018 - 14:51:35 WIB | dibaca: 454 pembaca

Tim ORARI Simulasi Jaringan Radio Pada Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2018 di Graha BNPB

JAKARTA, Parahyangan-post.com –  Diri kita, keluarga dan komunitas merupakan elemen terdepan dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan yang melekat pada elemen tersebut menjadi pondasi ketangguhan negara terhadap bencana. Ini menjadi fokus utama dan sasaran aksi gerakan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2018, dengan tema ‘Siaga Bencana dimulai dari diri kita, keluarga dan komunitas.’ 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai bahwa kesiapsiagaan diri (individu) dan keluarga menjadi begitu penting. Individu sebagai bagian dari keluarga diharapkan memiliki rencana kesiapsiagaan bencana. Sehubungan dengan rencana tersebut, Kepala BNPB Willem Rampangilei menyampaikan bahwa kesepakatan pada saat ‘prabencana’ perlu dibuat bersama oleh seluruh anggota keluarga agar mereka lebih siap menghadapi situasi ketika darurat bencana. 

Masing-masing keluarga perlu menyepakati rencana menghadapi situasi darurat dengan beberapa skenario, karena aksi yang perlu dilakukan bisa menjadi berbeda untuk kondisi yang berbeda. Skenario dibuat bersama oleh seluruh anggota keluarga sesuai jenis bahaya yang mengancam. Dalam setiap skenario, disepakati siapa melakukan apa, dan bagaimana caranya,” ucap Willem yang menekan sirine tanda berlangsungnya geladi evakuasi bencana di Graha BNPB sekaligus menandai Hari Kesiapsiagaan Bencana 2018 pada Kamis (26/4). 

Kesiapsiagaan sudah sepatutnya menjadi kesadaran setiap individu sebagai bagian dari keluarga karena wilayah Indonesia rawan bencana. Hal ini bercermin dari fakta geologis dan hidrometeorologis bahwa Indonesia memiliki potensi bencana seperti gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir, longsor, kekeringan, dan angin puting beliung. Data BNPB mencatat bahwa 2.372 bencana terjadi sepanjang 2017 dengan mengakibatkan korban meninggal 377 jiwa.

Dalam konteks kesiapsiagaan itu, BNPB mengharapkan HKB yang dilakukan semua pihak setiap tahun sebagai latihan evakuasi bencana bersama. Latihan evakuasi bencana tersebut merupakan upaya untuk memperkuat kapasitas kesiapsiagaan masyarakat sehingga mereka mengenal ancaman risiko di sekitarnya, mampu mengelola informasi peringatan dini, memahami rambu peringatan, serta mengurangi kepanikan dan ketergesaan saat evakuasi yang biasayanya justru menimbulkan korban dan kerugian. 

Di sisi lain, kesiapsiagaan individu mampu menyelamatkan dari bencana. Sementara itu, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Widjaja menguatkan hal tersebut melalui pembelajaran dari Jepang. Hasil kajian dan survei yang dilakukan di Jepang terhadap kejadian gempa Great Hansin Awaji (1995) menunjukkan bahwa
persentase korban selamat dalam durasi ‘golden time’ disebabkan oleh (1) Kesiapsiagaan diri sendiri sebesar 35%, (2) Dukungan anggota keluarga 31,9%, (3) Teman/Tetangga 28,1%, (4) Orang lewat 2,60%, (5) Tim Penolong 1,70%, (6) Lain-lain 0.90%. 

Kesiapsiagaan individu dan keluarga menjadi begitu penting, mengingat faktor yang paling menentukan untuk keselamatan diri dari potensi bencana adalah penguasaan pengetahuan yang dimiliki oleh diri sendiri,” ujar Wisnu saat pelaksanaan HKB 2018 pada Kamis (26/4) di Graha BNPB, Jakarta Timur.  

Berdasarkan kondisi wilayah Indonesia rawan bencana serta merefleksikan hasil kajian tersebut, sebuah gerakan aksi bersama diperlukan oleh setiap pihak untuk penyelenggaraan latihan kesiapsiagaan. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan seluruh komponen bangsa dalam menghadapi potensi bencana di Indonesia. Dalam situasi darurat, pengambilan keputusan secara cepat dapat meningkatkan peluang selamat dan meminimalkan dampak kerugian.  

Menutup pernyataan, Wisnu menekankan bahwa r
encana kesiapsiagaan yang disusun harus dikomunikasikan dengan anggota keluarga di rumah, kerabat yang ada dalam daftar kontak darurat, serta mempertimbangkan sistem yang diterapkan lingkungan sekitar dan pihak berwenang. 

Bila rencana sudah disepakati, keluarga perlu melakukan simulasi secara berkala agar tidak panik dalam situasi darurat. Dengan informasi yang cukup dan rencana yang telah disepakati sebelum terjadi bencana, diharapkan dapat memperlancar berbagai proses pengambilan keputusan oleh setiap anggota keluarga dalam situasi darurat.” 

Melalui HKB 2018, setiap individu dapat membangun kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana dengan cara membangun partisipasi semua pihak. Sementara itu tujuan kegiatan ini untuk membangun kapasitas dan kapabilitas semua pihak terkait kesiapsiagaan bencana. 

Total estimasi peserta yang berkomitmen dalam partisipasi HKB melalui latihan evakuasi bencana serentak di seluruh nusantara hingga malam ini (25/6) pukul 21.00 berjumlah 30.069.804 peserta dari pemerintah, organisasi, sekolah dan keluarga. 


Sumber :
Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB 

#SiapUntukSelamat 
#BudayaSadarBencana 
#GiatHKB2018










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)