Edukasi

Kesaksian Dibalik Pesta Rakyat

Administrator | Sabtu, 23 April 2016 - 15:18:55 WIB | dibaca: 1329 pembaca

Maufur tengah menyerahkan buku Antologi Puisi kepada Penyair asal Banyumas, Hamidin Krazan. (sumber foto : HK)

TEGAL, Parahyanganpost.com - Kesaksian Dibalik Pesta Rakyat merupakan buku kumpulan Puisi Maufur dan Tri Mulyono yang diterbitkan oleh Penerbit Tegal Laka-Laka, Kota Tegal, Jateng. Dalam antologi yang diberi pengantar oleh Budayawan Ahmad Tohari ini memuat puisi-puisi DR. Maufur. Ia pernah menjadi rector Univbersitas Pancasakti (UPS) Tegal, Jawa Tengah  dan pernah menjabat Wakil Walikota Tegal. Sedangkan   Tri Mulyono, pria asal Pemalang, Jawa Tengah,   juga Dosen Bahasa Indonesia di UPS Tegal .

Menurut Ahmad Tohari dalam pengantarnya menilai bahwa foktor di bidsang ilmu pendisikan ini menunjukkan, Maufur sunguh-sungguih melarut dalam kehidupan. “Semua aspek kehidupan manusia rupanya dia baca dengan sangat intensif sampai menjadi lautan kearifan yang setiap detik dipancarkan keluar dalam bentuk puisi.”

Maufur sendiri mengaku mudah dalam hal menulis puisi. Dimana dan kapan saja serta menggunakan sarana apa saja. Dengan tulisan tangan, mesin tik, telepon genggam, bahkan di atas kertas apaapun jadi. Jelas sekali Maufur menganggap puisi memang harus mudah dilahirkan.

Dalam puisi berjudul ‘Dibalik Pesta Rakyat’, Maufur mengemplang keras terhadap adat semrawut para kontestan sekaligus wadyabala tim suksesnya baik dalam Pemilu, Pilpres, Pilgub, Pilkada/Pilwalkot. Mereka seringkali secara sadar atau  tanpa sadar menampilkan watak aslinya.

Sekalipun telah dipoles dengan topeng demokrasi dan sikap santun sedemikian rupa, namun cerminan watak  penjajah pada akhirnya keluar juga.  Terbukti sesuai pengamatannya, tiap usai pesta demokrasi, paasti selalu menyisakan sampah yang mengotori lingkungan dengan membiarkan bekas pemasangan alat peraga kampanye dalam berbagai bentuknya, meski ada hari tertentu dilakukan operasi pembersihan alat peraga, namun masih banyak tersisa  di tempat strategis pandang tapi tak terjangkau untuk sibersihkan sehingga alat peraga itu tetap menempel dan benar-benar mengotori pandangan secara kasat mata.

Lebih dari sekedar sampah itu, juga timbul sampah-sampah demokrasi, sampah-sampah dari janji tanpa bukti dan sampah yang mengotori sucinya kepercayaan rakyat  pemilih.

Tidak sedikit sikap sampah para wakil rakyat. gubernur, bupati, walikota yang dikiaskan dalam puisi ‘Dibaloik Pesta Rekyat’.  Dalam pasa itu, Maufur memotretnya dalam lirik berikut: Dan yang ramah sampai/ yang mencerminkan penjajah/ setelahnya tak ada apa-apa yang berubah/ tetap seperti sediakala/ korupsi merajalela…// (Hl. 01)

Petikan bait puisi itu bukan sebuah asumsi tanpa bukti, tetapi lebih dari baris kalimat yang padat makna serta berdasarkan fakta dan data yang telah dibuktikan fslsm desirtasi salah seorang dosen di UPS, Himawan. Melalui penelitian sebagai sarat peraihan gelar doktornya, sebagaimana disampaikan Maufur bahwa  pemenang pilkada dari hasil politik uang itu berdampak pada pembangunan di daerah kekuasannya yang cenderung stagnan. Mau bukti? Simak saja berita liputan KPK setiap hari. (Hamidin Krazan)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)