Opini

#teknologipedesaan#

KAUM MUDA, KONSERVASI AIR, DAN INOVASI TEKNOLOGI PEDESAAN

Administrator | Senin, 09 September 2019 - 11:15:24 WIB | dibaca: 485 pembaca

oleh: Kyai Anom Sukmorogo Sejati
Direktur Primadaya Laras Farm 

Sebagai orang desa biasa,tentu bergelut dengan rutinitas di lahan. Mengurus media tanam, tanaman, pupuk,sarana pengendali hama dan sejenisnya. Saya merasa banyak terbantu dengan adanya perbaikan jaringan irigasi teknis dan setengah teknis yang dibuat masyarakat dan Pemerintah. Maklumlah keberadaan air dari segi jumlah dan mutu menjadi faktor kunci dalam budidaya komoditas tertentu di arena lahan kering seperti Kabupaten Wonogiri,Pacitan,Ponorogo,Trenggalek, Blitar,Malang Selatan dan juga Gunungkidul dan sebagian Kebumen bagian barat selatan. Terlebih di wilayah Dompu,Bima,Manggarai, Bajawa, Ende, Sikka,Larantuka, Sumba Barat, Sumba Timur dan Alor. Demikian halnya dengan di Soe dan Atambua.

Di tengah menurunnya minat generasi muda pada sektor pertanian, tentu saja inovasi teknologi terapan menjadi sangat membantu. Terlebih ketika kita mewarisi desa desa di kawasan lahan kering hanya didominasi oleh kelompok usia tua dan anak anak (non productive age). Penggarapan  dan penyiapan lahan dan perawatan tanaman dan pengangkutan hasil panen akan menjadi masalah berbiaya tinggi (costly expenditure). 

Kondisi di atas telah memunculkan banyak sikap hidup petani yang cari praktis dan melupakan hal hal mendasar (essential value) secara lingkungan, khususnya dari segi penggunaan benih, pupuk pabrikan, dan obat obatan kimia yang telah mengganggu kesehatan tanah dan matinya sejumlah hewan dan tanaman yang menjadi teman atau kanca petani dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman.

Rusaknya kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS)  sebagai daerah tangkapan air telah mengganggu kesetimbangan ketersediaan air yang tajam pada musim kemarau dan penghujan. Hal ini berdampak pada hilangnya kesempatan berproduksi pada para petani karena kebanjiran di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. .

Telah ada upaya Gerakan National Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) , tetapi sangat sedikit tanggapan dan peranserta ormas pemuda,pelajar, dan keagamaan dan  perempuan yang terlibat untuk mengatasi masalah mendasar bagi umat manusia di bagian bumi kita tinggal.

Situasi di atas membutuhkan terobosan dan percepatan upaya pemulihan melalui konservasi tanah dan air, dan juga penemuan baru teknologi produksi petani yang tidak memasung petani dalam struktur ketergantugan baru untuk bisa berdaya dan berkelanjutan usahanya di tingkat keluarga,lokal dan nasional.

Wonogiri, 5 September 2019










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)