Opini

Jebolnya Kandang Banteng

Administrator | Selasa, 15 Januari 2019 - 05:00:59 WIB | dibaca: 226 pembaca

Ratman Aspari, Anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI)

Oleh : Ratman Aspari *)

PERKEMBANGAN - Politik semakin hari semakin menarik, hangat dan penuh dengan kejutan-kejutan. Masing-masing tim sukses pasangan capres – cawapres dari dua kubu yang berlaga terus mengatur strategi untuk menarik simpati rakyat agar memilih jagoanya.

Paling tidak dalam minggu terakhir ini rakyat disuguhi pertunjukan yang cukup menarik, di Jakarta, mereka yang mengklaim para alumni dari universitas bergengsi mendeklarasikan dukunganya untuk  pasangan Capres – Cawapres pasangan nomor satu pada Pilpres mendatang.

Walaupun di media social mencuat berbagai persoalan ‘kurang sedapf’ terkait deklarasi tersebut, dan itulah politik, paling tidak lawan-lawan politiknya juga ingin mengabarkan bahwa deklarasi itu merupakan deklarasi semu, sekedar basa-basi  politik. Apalagi ditutup dengan gaya selfi sebagai kebiasaan capres nomor satu, dimana ada saja pihak-pihak yang mersepon bahwa selfi sebagai basa-basi, politik pencitraan kurang ada manfaatnya buat kehidupan rakyat.

Saat ini rakyat butuh solusi, butuh kepastian untuk sebuah harapan kehiduapanya dimasa depan, tidak cukup hanya sekedar disuguhi, politik basa-basi dengan berselfi ria, sudahlah kita lupakan, itu semua.

Lain di Jakarta, lain di Solo, dua moment penting terjadi  di Solo, pertama peresmian Posko Pemenangan dari pasangan capres – cawapres nomor urut dua. Tidak lama setelah peresmian posko tersebut beragam pemberitaanpun muncul, sehingga banyak pihak yang baru menyadarinya ada sebuah kerja-kerja kreatif dari tim pasangan capres nomor dua ini.

Disadari atau tidak oleh pihak lawan politiknya, gaung pemberitaan peresmian posko pemenangan pasangan capres nomor dua di Solo terus menggema, sehingga menyeret lawan politiknya ke arus keriuhan terkait peresmian posko tersebut. Kondisi ini bisa disimak dari pemberitaan-pemberitaan dimedia masa maupun di media social.

Selang beberapa hari setelah peresmian Posko Pemenangan pasangan Capres nomor urut dua ini, lagi-lagi di Kota Solo ada moment yang cukup menarik, tablig akbar, semacam reuni akbar 212, dengan jumlah massa yang cukup massif,  Kota Solo memutih, walupaun sebelum waktu pelaksanaanya, sempat berdedar berbagai macam pemberitaan yang kurang sedap dengan melibatkan aparat keamanan disana.

Namun antusias, rasa senasib seperjuangan tidak lagi bisa dibendung, warga tumpah ruah di Solo tanpa ada iming-iming dan embel-embel apapun, sebagaimana pada Reuni Akbar 212 di Monas, mereka yang datang, ikhlas tanpa pamrih, semata-mata hanya berharap Ridho Sang Maha Perkasa. Dimedia social tagar #PutihkanSolo terus melambung. Dua moment di Kota Solo tidak lagi sebagai isu lokal, sudah jadi perbincangan dan isu nasional, warga masyarakatpun bertanya dan ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi di kota Solo.

Dibandingkan moment deklarasi para alumni yang di Jakarta, rentetan kejadian di Solo, sebenarnya lebih menarik untuk dicermati, terlepas Anda itu pendukung pasangan nomor satu atau nomor dua, itu tidak ada urusan, tetapi dari sisi politis dua moment kerja-kerja kreatif tim pasangan capres ini, sangat menarik untuk dicermati dan didiskusikan, paling tidak bisa jadi pembelajaran dalam berdemokrasi, untuk bisa saling menghargai perbedaan, tanpa mencaci, apalagi dengan cara-cara yang kurang etis.

Kota Solo khususnya, dan Jawa Tengah pada umumnya selama ini dikenal sebagai basis massanya partai berlambang banteng moncong putih dengan latar warna merah. Kalau kita sekedar jalan – jalan menelusuri Kota Solo, akan banyak menemukan baliho berukuran besar, bendera dari partai berlambang kepala banteng moncong putih dengan latar warna merah ini cukup marak, menghiasi sudut-sudut kota. Begitu juga foto-foto para caleg dari partai tersebut, juga bertebaran disana-sini.

Legitimasi bahwa Solo dan Jawa Tengah pada umumnya sebagai basisnya partai berlambang banteng moncong putih sebenarnya sudah terjadi sejak lama, generasi orang tua kita dulu masih begitu mengidolakan sosok founding father, Bung Karno. Kharismatik sosok Bung Karno inilah yang menjadi daya pikat para generasi tua itu untuk menyalurkan aspirasinya kepada partai berlambang kepala banteng moncong putih ini, karena melihat beberapa keturunan Bung Karno ada di situ. Jadi ketertarikan generasi tua kepada partai berlambang kepala banteng moncong putih lebih karena kerinduan dan romantisme kepada masa lalu bagi para generasi tua.

Saat ini zaman sudah berubah, generasi milenia mendominasi setiap lingkup kehidupan, termasuk dalam bidang politik. Kesadaran berpolitik generasi milenia, tidak sekedar romantisme masa lalu, tetapi lebih kepada pertimbangan-pertimbangan dan realita kekinian yang ada disekitarnya. Berbeda dengan generasi tua, generasi milenia ini begitu dimanjakan dengan perangkat teknologi (gadget) yang banyak mendukung untuk penyebaran informasi melalui berbagai media social, sebagai wujud ekspresi dan eksistensi bagi dirinya, yang kemudian akan sangat mempengaruhi juga dalam bidang politik, termasuk dalam menentukan hak pilihnya.


Efek Pilgub Jateng

Selisih kemenangan pasangan yang diusung oleh partai berlambang kepala banteng moncong putih bersama mitra koalisisnya yang notabene merupakan petahana dalam pilgub Jateng tahun lalu dengan pasangan lawanya (Sudirman Said – Ida), selisih perolehan suaranya begitu tipis, tidak signifikan.

Bedasarkan data yang dilansir dari Kompas, misalnya, pasangan petahana ; Ganjar – Yasin, memperoleh : 10.362.694 (58.78%) suara, sedangkan pasangan ; Sudirman – Ida : 7.267.993 (41.22 %) suara.
Berdasarkan data KPU, untuk Pilkada Jawa Tengah: Jumlah pemilih: 27.068.125 pemilih, Jumlah surat suara sah: 17.630.687 suara, Jumlah surat suara tidak sah: 778.805 suara.

Melihat angka tersebut diatas bahwa kemenangan petahana yang diusung oleh partai berlambang kepala banteng moncong putih bersama mitra koalisinya, dimana Jawa Tengah yang selama ini diklaim sebagai basis massa mereka, sejatinya sangat rapuh.

Maka tidak heran sebelum pelaksanaan Pilgub Jateng, Megawati selaku Ketua Umum partai berlambang kepala banteng tersebut sempat memberikan pesan khusus kepada kadernya di Jawa Tengah untuk bekerja memenangkan pasangan Ganjar – Yasin, bahkan sempat ramai dimedia dengan munculnya pernyataan, ‘Kalau sampai Jateng kalah, tak sembelih kamu’.

Melihat fenomena ini, menjadi begitu menarik, bahwa klaim Jawa Tengah sebagai basis masanya partai berlambang kepala banteng dengan moncong putih, secara lambat laun sudah mulai bergoyah. Era romantisme generasi tua, beralih kepada era generasi milenia yang paham akan teknologi informasi sebagai kekuatan penyebaran informasi dimedia social, yang tentunya bisa menjadi mempengaruhi hak pilih seseorang.

Jadi dari rangkaian kejadian di Solo, mulai dari peresmian posko pemenangan pasangan capres – cawapres nomor dua, sampai tablig akbar dengan jumlah massa yang begitu masif, memutihkan Kota Solo, sebagai rangkaian kerja-kerja kreatif dari para pelaku politik yang pada akhirnya akan terus menggerus basis-basis masa partai berlambang kepala banteng dengan moncong putih tersebut.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang nota bene kader partai berlambang kepala banteng moncong putih boleh saja mengeluarkan peryantaanya, bahwa keberadaan markas dan posko pemenangan pasangan capres dan cawapres nomor urut dua, “hanya akan membangkitkan bantengnya dari bangun tidur dan tanduknya keluar”.

Suka tidak suka bahwa Jawa Tengah yang selama ini diklaim sebagai kandang banteng kelihatanya sudah mulai bobol disana – sini, semakin hari pertarurangan politik semakin seru dan terus menghangat, akankah jebolnya kandang banteng tersebut bisa digantikan menjadi lumbung padi, tentunya waktu jualah yang akan menetukanya.



*) Penulis Adalah Anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)