Seni Budaya

seni sastra

Jambore Susastra Jabar 2017 Lahirkan Deklarasi Bogor

Administrator | Minggu, 27 Agustus 2017 - 12:45:34 WIB | dibaca: 294 pembaca

Perwakilan seniman Subang, Pardi Dongkar (Pardong) membacakan puisinya dalam acara Jambore Susastra Jabar 2017 di Bogor. (foto koja)

Bogor parahyangan-post.com-Merasa prihatin terhadap nasib karya sastra yang selalu dilecehkan, para sastrawan dan seniman peserta Jambore Susastra Jabar 2017 mengeluarkan 9 butir rekomendasi yang dinamakan “Deklarasi Bogor untuk Sastra Indonesia”.

Ketua panitia Jambore Susastra 2017, Putra Gara, mengatakan keprihatinan bukan hanya kepada karya sastra yang terpinggirkan, tetapi juga kepada nasib sastrawannya yang memprihatinkan.

“Apalagi setelah mereka tua, banyak yang hidupnya terlunta-lunta, tidak punya rumah,  jauh dari sanak saudara, bahkan tak mampu membayar biaya berobat di rumah sakit,” paparnya.

Beberapa point dari 9 butir deklarasi yang dirumuskan oleh peserta itu, berisi tuntutan kepada pemerintah agar lebih menghargai karya sastra dan memberikan jaminan kepada pelaku sastra (sastrawan) agar dapat hidup layak.

Berikut sembilan butir isi Deklarasi Bogor untuk Sastra Indonesia.

  DEKLARASI BOGOR UNTUK SASTRA INDONESIA

 

  1. Mendorong semua pihak untuk menghargai karya sastra dengan cara mendukung dan memfasilitasi penerbitan karya para sastrawan.
  2. Mendorong semua pihak untuk mendukung dan memfasilitasi kegiatan sastra di masyarakat
  3. Meminta pemerintah memberi apresiasi dan penghargaan  secara periodik kepada sastrawan.
  4. Pemerintah berkewajiban mensosialisasikan, menerjemahkan, menerbitkan dan mempromosikan karya para sastrawan Indonesia di dalam maupun di luar negeri
  5. Pemerintah berkewajiban menjamin kesehatan sastrawan dengan cara memberi asuransi yang layak
  6. Mengoptimalkan SDM sastrawan lokal di daerah masing-masing dalam kegiatan literasi
  7. Pemerintah  berkewajiban memfasilitasi, menggali, melestarikan dan mempromosikan karya sastra tradisi
  8. Pemerintah berkewajiban memfasilitasi peningkatan kwalitas sastrawan melalui pelatihan, pendidikan, residensi di dalam dan di luar negeri
  9. Pemerintah berkewajiban membeli buku karya para sastrawan untuk disebarluaskan ke lembaga pendidikan, komunitas, perpustakaan di dalam di luar negeri.

 

PERUMUS (tim kecil)

  1. Putra Gara /Aceh
  2. Mustafa Ismail / Aceh
  3. Sudiyanto / Jawa Timur
  4. Buanargis  Muryono / Jawa tengah
  5. Rida Nurdiani / Jawa barat
  6. Willy Ana / Bengkulu
  7. Fanny J. Poyk / NTT
  8. Hamidin Krazan
  9. Ace Sumanta /Jawa Barat
  10. M. Bonar Harahap / Sumatera Utara
  11. Saifullah S. /Aceh
  12. Ary Mugiasih / Jawa Timur
  13. Nanoe Anka / Jawa Barat
  14. Gus Weet /jawa Barat
  15. Moch. Saleh Sohih.
  16. Ismail Lutan/ Sumatera Barat

Hasil rumusan tim kecil ini disepakati oleh seluruh peserta yang hadir dalam jambore tersebut.

Jambores Susastra Jabar 2017, diselenggarakan oleh KOSA JABAR, berlangsung 25-27 Agustus 2017,di Wisma Dharmais, Bogor, dihadiri lebih kurang 75 sastrawan dan seniman berasal dari seluruh Indonesia.Selain diskusi sastra acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian oleh masing-masing delegasi.

Rencananya, Jambore Susastra Jabar akan berlangsung setiap tahun sebagai wujud nyata kepedulian seniman meningkatkan dan mengembangkan kehidupan bersastra di Indonesia.

Selain itu juga untuk ‘mengetuk jendela hati’ pemangku kuasa agar lebih peduli kepada karya sastra dan pegiat kebudayaan.

Dukungan penuh

Untuk kegiatan perdana ini, bertindak sebagai tuan rumah adalah Dewan Kesenian Kabupaten Bogor. Ketua Dewan Kesenian Bogor Erwin Suriana mengatakan, pihaknya bangga dapat memfasilitasi dan mendukung acara yang digagas oleh seniman dan sastrawan ini.

“Bukan untuk kegiatan perdana ini saja, tetapi juga untuk kegiatan  KOSA JABAR berikutnya, Dewan Kesenian Kabupaten Bogor siap berpartisipasi aktif, karena kami berkomitmen kuat untuk meningkatkan kesenian  dan kesastraan Indonesia,” tuturnya antusias.  

Ditambahkan Eriwn, dalam meningkatkan kesenian dan kebudayaan, khususnya di Bogor, pihaknya tidak selalu top down, tetapi juga bottom up.

“Saya selalu berpikiran, untuk mengembangkan kesenian harus dari bawah. Yakni dari pelaku kesenian itu sendiri, bukan dari atas atau pejabat. Makanya, apa yang diingini oleh pelaku kesenian, harus difasilitasi dan direalisasikan,” tambahnya.*** (aboe)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)