Ekbis

Diskusi Terbatas CISFED Bersama Prof. Dr Muhammad Syukri Salleh

Islamic Paradigma of Economic & Development.

Administrator | Kamis, 08 Februari 2018 - 17:01:12 WIB | dibaca: 400 pembaca

Prof Dr Muhammad Syukri Salleh di Dampingi Ketua CISDEV, Farouq Albullah Alwayni (foto : rat/pp)

Jakarta, Parahyangan-post - Bertempat di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Center for Studies in Finance and Devellopment (CISFED) menggelar diskusi terbatas tentang  Islamic Paradigma of Economic dan Development, Selasa (06/02). 

Sebagai narasumber dalam diskusi tersebut, Prof Dr. Muhammad Syukri Salleh dari Center for Islamic Development Management Studies (ISDEV) University Sains Malaysia dan Dr.
Shereeza binte Mohamed Sanif, dari Sultan Sahrif Ali Islamic University (UNISSA) Negara Brunei Darussalam. 

Dalam pengantarnya, Ketua
 CISFED, Faraouk Abdullah Alwyni, MA, MBA, ASCI mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan diskusi terbatas dan merupakan program kegiatan yang digelar CISFED sebagai bentuk sumbangsih dan kontribusinya dalam pengembangan dan mensosialisasikan ekonomi Islam /ekonomi syariah. Faraouk juga menyampaikan bahwa ketertarikanya dengan ISDEV yang terus mengembangkan pemikiran-pemikiranya terkait Ekonomi Islam. 

Sementara itu dalam paparanya, Prof Dr Muhammad Syukri Salleh menyampaikan bahwa ini untuk kedua kalinya diskusi bersama rekan-rekan dari CISFED, kebetulan sedang ada kegiatan di Indonesia, sekaligus dimanfaatkan untuk memenuhi undangan dari Ketua CISFED, Farouq Abdullah Alwayni. 

Lebih lanjut, pria yang akrab di sapa dengan Prof Syukri memaparkan bahwa Istilah Ekonomi Islam terus berkembang dan di Indonesia sendiri istilah Ekonomi Islam lebih dikenal dan familiar dengan istilah Ekonomi Syariah. Menurut Prof. Syukri saat ini paradigma Ekonomi Islam Kontemporesr terus berkembang di Turki dan juga di Pakistan. 

Prof Syukri menyajikan tujuh pandanganya terkait dengan kajian Ekonomi Islam Kontemporer. Keterbatasan sumber daya alam, semakin hari semakin berkurang dan bisa habis, sementara Kemauan dan nafsu manusia yang tidak ada batasnya, ini juga menjadi persoalan tersendiri. Sementara itu Ekonomi Islam saat ini juga tidak mendefinisikan kemiskinan dan dalam ekonomi Islam sangat di junjung tentang konsep keadilan menurut Islam. 

Prof Syukri juga sangat menyayangkan masih adanya kalangan ahli
  dari ekonom Islam tetapi masih menggunakan methodologi penelitiannya masih konvensional. 

Sementara itu pembicara berikutnya, Dr. Shereeza binte Mohamed Sanif, Sultan Sahrif Ali Islamic University (UNISSA) Negara Brunei Darussalam, tentang Ekonomi Pembangunan Islam lebih banyak memaparkan konsep ekonomi pembangunan menurut Islam yang lebih berkeadilan. Banyak hal yang bisa digali menurut Dr. Sherreza yang semakin hari menekuni konsep pembangunan ekonomi Islam justru merasa semakin harus banyak belajar kembali. 

Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, banyak hal yang disampaikan oleh audensi, sehingga diskusi terbatas tersebut menjadi semkain hidup dan menarik. Banyak persoalan terkait Ekonmi Islam. 

Di Indonesia sendiri penyebutan nama “Ekonomi Islam” lebih familiar dengan istilah Ekonomi Syariah, hal ini tidak terlepas dari rasa traumatik semasa orde baru yang begitu mengekang kebebasan dan pihak-pihak yang kurang senang dengan istilah Islam, demikian diungkapkan oleh salah seorang peserta diskusi. 

Apapun istilahnya, menurut Prof Syukri, kita semua terumata di Indonesia patut bersyukur kepada pihak – pihak yang selama ini berkecimpung dan berjuang dalam ekonomi syriah. Banyak kekurangan disana sini itu wajar saja, secara bertahap harus terus ada perbaikan-perbaikan sesuai dengan harapan dan kaidah-kaidah Ekonomi Islam yang sebenarnya. 


(ratman/pp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)