Nusantara

#PJMI

Halal bi Halal dan silaturahmi Keluarga Besar PJMI

Administrator | Senin, 08 Juli 2019 - 07:50:03 WIB | dibaca: 73 pembaca

DEPOK (Parahyangan-Post.com) –  Dalam rangka untuk mempererat rasa persaudaraan dan merajut tali silaturahmi sesama pengurus dan anggota, maka pada Sabtu (07/07/2019) diadakan halal bi halal dan silaturahmi Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) di rumah kediaman saudara MY Gunawan, Depok. 

Hadir dalam acara tersebut, Ketua PJMI, Iwan Samariansyah atau yang biasa di panggil Iwan Sam dan Sekjen, Ismail Lutan serta jajarang pengurus, anggota serta beberapa tamu udangan lainya. 

Acara, silaturahmi ini menjadi begitu penting setelah beberapa waktu lalu sempat vakum, karena kesibukan masing-masing, jelas Ketua PJMI. Harapan kedepan menurut Iwan, agar pertemuan PJMI bisa diintensifkan lagi.

Sementara itu, Sekjen PJMI, Ismail Lutan beserta semua yang hadir juga menyambut baik gagasan untuk diadakanya pertemuan rutin pengurus, anggota dan keluarga besar PJMI. Mudah-mudahan ini adalah langkah awal untuk kita memulai kembali mengurus organisasi. Dan untuk pertemuan satu bulan mendatang rencananya akan dilaksanakan di Kantor TV Budaya, Kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII). 

Disamping itu,beberapa agenda kedepan juga akan terus dilakukan, salah satu point yang mendasar untuk pengembangan organisasi, menurut Ketua PJMI, perlu adanya pengembangan cabang ke daerah-daerah, pembentukan pengurus wilayah. Selain itu beberapa agenda lainya, seperti silaturahmi denganpara tokoh-tokoh nasional, mengadakan workshop jurnalistik, serta pembentukan badan otonom PJMI Peduli juga menjadi agenda kegiatan kedepannya. 

Sekilas Tentang PJMI : 

Tanggal
08 April 2011, usai melaksanakan sholat Jum’at di masjid dekat tempat tinggalnya, wartawan senior Widi Yarmanto meninggal dunia. Sore hingga malam itu, banyak kerabat wartawan bergerak datang ke rumah duka. Tapi, hanya sampai di situ. Esok paginya, saat jenazah hendak dikebumikan, wartawan yang mengantar hingga ke kuburan jumlahnya tak lebih dari lima jari tangan. 

Fenomena itu, hampir terjadi pada setiap wartawan yang meninggal dunia, solidaritas profesi tidak berlanjut hingga jasad wartawan rekan kita, tertanam di tanah. Sungguh berbeda dengan profesi lain.?. Seorang tentara, misalnya ketika ia meninggal, jasadnya diserahkan ke negara. Para tentara juga mengantarkan hingga ke liang lahat.Pakai tembakan salvo segala. 

Lalu, sampai kapan fenomena wartawan
yang meninggal tak diantar banyak rekannya hingga ke liang lahat..? Bahkan, sebelum ajal menjemput, beberapa pula jumlah wartawan yang tergerak untuk mengunjungi, mendoakan serta memberi bantuan dana pengobatan pada sesama rekan profesi yang sedang menjalani rawat inap di rumah sakit ? Wallau’alam

Kondisi sosial diantara rekan profesi wartawan ini membuat wartawan muslim terisnpirasi untuk mendirikan Persaudaraan Jurnalis Muslim (PJMI). Tujuh wartawan senior yaitu ; Mashadi (Era Muslim), Mohammada Anthoni (LKBN Antara), R.Widjojo Hartono (Tapal Batas), Lukman Khalid (Tabloid Bekam), Djunaedi (Suara Islam), Iwan Samariansyah (Jurnal Nasional) dan Suyunus Rizki (Koran Jakarta), sepakat untuk mendeklarasikan Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonsia (PJMI). 

Deklarasi dilakukan dalam pert
emuan sederhana di Rumah Makan Aljazera, Jl.Raden Saleh, Jakarta Pusat, di depan pembina Mohammad Bawazeer (tokoh pergerakan Al-Irsyad) disaksikan Brigjen TNI Hartid Asrin (Kapuskom Publik Kementrian Pertahanan R.I, saat itu) pada 03 November 2011. 

Selanjutnya, untuk menggerakan organisasi PJMI, Ketua Umum Mohammad Anthoni menghubungi wartawan senior Parni Hadi (Republika/Dompet Dhuafa) dan Irjen Pol (Purn) H. Hari Soenanto, mendapingi Mohammad Bawazeer sebagai pembina, dengan Prof DR H.Ahmad Sutarmadi sebagai penasehat. 

Persaudaraan Jurnalis Muslim (PJMI) juga didirikan atas sebuah kesadaran sejarah dari para Jurnalis Muslim tentang pentingnya pembelaan terhadap nilai-nilai keadilan dalam penyampaian informasi kepada publik yang selama ini di
rasa sering merugikan bangsa Indonesia. 

Media tertentu misalnya kadang menerapkan pemberitaan yang kurang berimbang terhadap peristiwa yang menyangkut masalah hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Apalagi ketika media menjadi corong suara kekuasaan dan kepentingan politik korporasi asing. Yang terjadi bangsa Indonesia menjadi bulan-bulannan informasi kepentingan asing. Untuk itu, Jurnalis Muslim harus mampu menerapkan sifat-sifat Nabi seperti ;
Shidiq, Amanah, Fathanah dan Tabligh

Di lain pihak banyak pihak menyebut seorang jurnalis (wartawan) adalah ahli komunikasi.
Tapi dalam praktiknya, komunikasi di antara sang jurnalis tidak terjalin dengan baik. Konidisi ini tentu harus dihindari oleh para jurnalis Muslim. Untuk itu, dibentuklah Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) guna meningkatkan dan mengukuhkan ikatan ukhuwah, meluruskan pemberitaan yang salah dan tak berimbang. 

PJMI
juga memiliki agenda melakukan pemberdayaan bagi kalangan jurnalis untuk  meningkatkan kemempuan jurnalistiknya guna mendukung kinerja yang selama ini menjadi tugasnya sehari-hari. 

Ikatan ukhuwah di kalangan jurnalis adalah keniscayaan.
Hasan Al Banna menetapkan tiga asas ikatan ukhuwah, yakni ; ta’aruf, tafahum, dan takaful. Tentang ta’aruf, saling mengenal, beliau menasihatkan untuk saling mengenal dan saling berkasih sayang dengan ruhullah, menghayati makna ukhuwah yang benar dan utuh di antara sesama anggota, berusaha agar tidak ada sesuatu pun yang merenggangkan ikatan ukhuwah, dan menghadirkan selalu bayangan ayat-ayat Al Qur’an dan hadist tentang ukhuwah. 

Tentang
tafahum, saling memahami, beliau berpesan bahwa ia adalah pilar kedua dalam ukhuwah. Beliau menasihati istiqomah dalam manhaj yang benar, menunaikan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadanya, dan tianggalkan apa-apa yang dilarang, melakukan muhasabah diri dengan muhasabah yang detail dalam hal ketaatan dan kemaksiatan setelah itu bersedia menasihati saudaranya yang lain. Hendaklah seseorang menerima nasihat saudaranya dengan penuh rasa suka cita dan ucapkan terima kasih padanya. 

Tentang,
takaful, saling menanggung beban, yang merupakan asas ketiga, beliau berpesan agar saling memikul beban sebagian yang lain. Demikian itulah fenomena konkrit iman dan intisari ukhuwah. Hendaklah sebahagian dari mereka senantiasa bertanya kepada sebahagian yang lain (tentang keadaan kehidupannya). Jika didapati padanya kesulitan, segeralah memberi pertolongan selama ada jalan untuk itu, serta mengimani tentang hadis-hadis tentang tolong menolong dan fadilahnya. 

(ratman/pp)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)