Seni Budaya

#film

Film Remembering, The Maurits Kiek Story Terbaik di Europe Asia Festival of Cinema 2019

Administrator | Sabtu, 21 September 2019 - 08:50:39 WIB | dibaca: 165 pembaca

YOGYAKARTA (Parahyangan-Post.com) -- Hari ini tanggal 21 September selalu dirayakan sebagai Hari Perdamaian Sedunia. Dalam rangka memeriahkan Hari internasional yang sangat penting ini, film “Herinneren: Het verhaal van Maurits Kiek… Remembering: The Maurits Kiek Story” diputar di Yogyakarta, Indonesia. Film ini menginspirasi penonton di Indonesia ketika diputar pada perayaan Hari Perdamaian Dunia tersebut, terutama karena pesan film ini adalah tentang menggemakan perdamaian dan menyebarkannya ke dunia.

Dalam acara pemutaran ini, diumumkan juga bahwa film ini meraih Film Terbaik dalam Europe Asia Festival of Cinema dan meraih penghargaan Best Enlightenment Award dari Borobudur International Film Festival.

Cheryl Halpern, produser dan sutradara Amerika untuk film dokumenter berdurasi panjang ini, mengatakan, "Ketika saya memproduksi dan menyutradarai film ini, adalah tujuan saya agar film dokumenter ini diputar di seluruh dunia dengan penonton yang beragam. Kisah Maurits Kiek perlu diceritakan, perlu diingat karena di dunia sekarang ini, untuk sekali lagi kita melihat kebangkitan dari ekstremisme, neo-nazisme, prasangka, kekerasan, kebencian manusia terhadap sesamanya dan tidak terbatas di benua Eropa saja, namun di seluruh dunia. ”

Cheryl juga menambahkan, "Untuk dapat membagikan cerita ini di Jogjakarta, Indonesia dan untuk terlibat dalam tanya jawab dengan generasi muda untuk membahas pelajaran yang dapat dipelajari dari film ini, untuk saya adalah suatu hal yang sangat penting."

Kanjeng Ratu Pakualaman IX Al-Hajj sebagai salah satu penonton yang hadir di pemutaran film ini berkomentar, “Saya baru saja menonton film yang sangat inspiratif tentang perjuangan seorang tokoh untuk membela kebenaran dan seorang tokoh yang benar-benar mencoba, bahkan mengorbankan dirinya untuk membebaskan orang lain. Merupakan hal yang sangat luar biasa sehingga saya pikir kita semua perlu berpegangan tangan, agar hal yang dilalui Maurits Kiek tidak terjadi lagi di masa depan. Meskipun kita tidak dapat menjamin hal semacam ini tidak akan terjadi di masa depan, mari kita coba untuk menciptakan perdamaian di lingkungan dan masyarakat kita yang merupakan salah satu cara untuk mencapainya. "

Sementara Wakil Walikota Wonosobo Ir. Agus Subagiyo M.Si berkomentar, “Pemerintah Wonosobo sangat menghargai film ini karena film ini bercerita tentang seorang tokoh yang dijajah tetapi masih memilih untuk mencoba mendamaikan dunia. Ini merupakan contoh kepahlawanan yang dapat dilakukan dan ditiru oleh Indonesia. Tokoh ini dapat digunakan sebagai contoh bagaimana seseorang dapat membawa perdamaian dunia.”

Tondi Hasibuan, Raja ke-12 dari kerajaan Huristak, Padang Lawas, Sumatera Utara menambahkan, “Film seperti ini benar-benar bagus dan memiliki unsur pendidikan yang sangat tinggi. Agar masyarakat dapat menonton dan belajar dari film ini, saya harap film semacam ini perlu diproduksi lebih banyak lagi di masa depan. "

"Herinneren: Het verhaal van Maurits Kiek... Remembering: The Maurits Kiek Story” menyajikan keberanian seorang pemuda untuk kembali ke Eropa yang diduduki Nazi di mana hadiah untuk penangkapannya "hidup atau mati" telah disebar. Dia menjabat sebagai agen MI-9 Inggris terselubung dan terlibat dalam menyelamatkan nyawa penerbang sekutu dan banyak lainnya tanpa melihat dari ras, agama, atau kepercayaan. Ia berani untuk berkata tidak dan mengorbankan dirinya untuk dunia yang lebih baik. Tekad Maurits Kiek yang tak tergoyahkan untuk berdiri, dalam menghadapi peluang yang luar biasa, dan melawan para pelaku kejahatan baru-baru ini diakui di Den Haag pada tahun 2015 di pusat pemerintahan Belanda.

“Karena kaum mudalah yang menjadi pemimpin masa depan masyarakat. Jika mereka tidak belajar bagaimana menjadi berani ketika menghadapi prasangka, intoleransi, rasisme dan kekerasan, yang saya takuti untuk cucu-cucu saya dan masyarakat pada umumnya adalah dimana kita akan berada. Jika kita dapat menceritakan kisah seperti ini dan belajar dari kisah ini dalam misinterpretasi siber di zaman ini, mungkin kita memiliki peluang membangun dunia yang lebih damai.” tutup Cheryl dengan pasti.

Pelaksana acara International Festivals Group bekerja sama dengan Masyarakat Adat Nusantara (MATRA), Universitas AMIKOM Yogyakarta, pesantren-pesantren, dan Visions of Peace Awards, melangsungkan Upacara Perayaan Hari Perdamaian Sedunia dengan tema "Culture Brings Peace To Humanity" di beberapa tempat di Yogyakarta, Sleman, Sukabumi, Sragen, Sukoharjo dan Jakarta sepanjang bulan September ini. Dalam Acara ini juga telah dideklarasikan Hari Perdamaian Nusantara yang akan mulai dirayakan mulai tahun 2020.

(ratman/PP)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)