Seni Budaya

Cinta Budaya dan lingkungan

Festival Ciliwung 2 Hadirkan Larung Getek dan Atraksi Wisata Menarik

Administrator | Selasa, 05 November 2019 - 20:32:59 WIB | dibaca: 198 pembaca

JAKARTA,(Parahyangan-Pos.com) -- Ketika bicara tentang Jakarta dan sekitarnya, maka kita tak bisa melupakan sungai Ciliwung. Sungai ini sejak lama begitu vital buat kehidupan masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Sungai ini menjadi tempat beragam aktivitas mulai mandi sampai jadi jalur transpotasi masyarakat.

Tidak hanya itu dari sungai Ciliwung ini, kita dapat membaca tentang peradaban Jakarta yang ternyata sudah ada sejak zaman prasejarah. Dari total 43 situs prasejarah di Jakarta, ada 15 situs prasejarah yang berada tak jauh dari sungai Ciliwung.

Salah satu situs yang diteliti Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta adalah Condet-Balekambang, Cililitan, Jakarta Timur. Situs ini merupakan tempat hunian yang ditempati masyarakat prasejarah. Nah, ini artinya zaman prasejarah sudah ada orang bertampat tinggal di Condet.Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta melakukan survei pada 1976 dan 1997 di daerah ini. Pada survey tersebut hanya ditemukan gerabah.

Fase berikutnya dilakukan penggalian lagi di lingkungan RT001/01 pada 1979 dengan kedalaman 75 cm di atas permukaan tanah . Nah, pada penggalian ini ditemukan pecahan gerabah berhias dan tak berhias, pecahan beliung persegi, pecahan (fragmen) cetakan, serpihan batu, batu fosil, terakota dan sebuah alat besi berbentuk parang. Tahun 1980 kembali dilakukan penggalian lagi di RT 006/01 dan ditemukan sebuah mata panah yang mengindikasikan adanya kegiatan perburuan di tepi sungai Ciliwung.

Selain memiliki warisan peradaban yang luar biasa, di tepi Ciliwung, khususnya di Kawasan Condet, dahulu terkenal dengan tanaman salaknya. Tercatat tahun 1966 – 1967, produksi salak di Condet mencapai 2,5 juta.

Walau memiliki sejarah dan potensi yang besar dalam bidang cagar buah-buahan, sungai Ciliwung juga menyimpan permasalahan yang kompleks.

Permasalahannya meliputi banjir, sampah dan pencemaran karena limbah. Kita tahu sungai adalah urat nadi kehidupan.

Atas dasar hal di atas, makanya Padepokan Ciliwung Condet dan disupport oleh Walikota Jakarta Timur, kembali menggelar acara seni buadaya dengan tajuk Festival Ciliwung 2, setelah sebelumnya digelar pada 2018.  Gelaran Festival Ciliwung 2 yang berkordinasi dengan Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Timur mengambil tema Ciliwung Sebagai Destinasi Wisata Budaya.

Maulana atau biasa disapa Lantur, Ketua Padepokan Ciliwung mengatakan, maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan ini sebagai langkah memperkenalkan dan memberikan informasi tentang sungai Ciliwung. Hal ini juga sebagai bagian untuk mengingat Ciliwung yang tak terpisahkan dari sejarah kota Jakarta. “Kita juga ingin mengangkat kearifan lokal masyarakat di lingkungan sungai Ciliwung. Lalu, mengajak masyarakat agar senantiasa menjaga dan melestarikan sungai Ciliwung demi kelangsungan keanekaragaman hayati dan ekosistem air,” ungkap Maulana.

Dengan adanya Festival Ciliwung 2 ini diharapkan masyarakat memahami dan melihat langsung keadaan Sungai Ciliwung. Lainnya diharapkan timbul rasa cinta terhadap sungai melalui acara yang dikemas menarik dengan sentuhan budaya. Utamanya seni budaya Betawi yang hidup di lingkungan sungai Ciliwung. 

Lebih jauh lagi, Lantur mengatakan, acara ini menjadi ajang untuk mendukung sungai Ciliwung sebagai salah satu destinasi wisata dan moda transportasi air di Jakarta. “Hal ini sejalan dengan adanya Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Nomor 881 Tahun 2019.  Isinya berupa TENTANG TIM PERCEPATAN PENATAAN DAN PENGEMBANGAN KAWASAN CONDET SEBAGAI DESTINASI WISATA,” bilang Lantur.

Dalam keputusan Gubernur diuraikan tentang objek penataan dan pengembangan Kawasan Condet sebagai destinasi wisata yang meliputi :

a. seni budaya Betawi dan seni budaya nusantara lainnya yang hidup di Kawasan Condet;

b. buah-buahan dan tanaman ciri khas Condet (Agro wisata);

c. lahan cagar buah Condet; dan d. karakteristik dan utilitas Sungai Ciliwung di Kawasan Condet (Ekowisata).

Dengan merespon keputusan Gubernur DKI di atas, harapannya masyarakat akan merasakan sungai bukan hanya sebagai sumber kehidupan. Tapi juga mampu memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar sungai Ciliwung.

Ajang yang digelar di Padepokan Ciliwung, jalan Munggang, Gang H. Mursali, Condet Balekambang, Jakarta Timur,  juga dihelat dalam rangka merespons Keputusan Gubernur  No. 31 Tahun 2019. Isinya mengatur mengatur tentang naturalisasi sungai Ciliwung.  Padepokan Ciliwung yang tepat berada di sisi sungai Ciliwung ini bisa menjadi contoh tentang naturalisasi bantaran sungai Ciliwung. Area Padepakan Ciliwung yang tadinya berupa tempat pembuangan sampah, kini berubah asri ditanami beragam tanaman asli Condet, mulai dari salak, secang, pisang dan lainnya.

Agar acara dalam ajang Festival Ciliwung ini menarik untuk didatangi, panitia menampilkan serangkaian acara menarik. Acara itu antara lain, Larung Getek Mini yang di dalamnya nanti ada Getek Harapan. Para para pejabat, tokoh masyarakat dan masyarakat umum menuliskan harapannya untuk sungai Ciliwung, lalu dilarung ke sungai memakai getek mini.

Ajang ini juga menghadirkan Fashion Show Batik untuk memperkenalkan sekaligus launching batik bermotif tumbuhan asli Condet dengan bahan baku pewarnaan dari pohon pucung. Berikutnya, ada penanaman pohon salak Condet yang merupakan tananaman yang identik dengan wilayah Condet dan telah dijadikan mascot kota Jakarta.

Lainnya, digelar perlombaan Permainan Tradisional, Mewarnai dan penaampilan seni budaya lainnya seperti Palang Pintu, Silat Betawi, Pantun Betawi, Tarian, Gambang Kromong, Dongeng Anak dan lainnya.

Pada stand di Festival Cilwung 2, selain diisi dengan kuiner Betawi, juga akan diisi dengan stand khusus tentang penulis Betawi, Firman Muntaco yang tinggal di Condet. Firman Muntaco selain menulis cerita Betawi dan mengembangan samrah Betawi, juga menulis tentang Cagar Budaya Condet dalam beragam surat kabar. Acara ini semacam menjadi momen pengingat dan menjadi inspirasi bagaimana Firman Muntaco berperan memajukan budaya Betawi di Condet.

Acara Festival Ciliwung 2 juga akan diisi dengan kunjungan kerhomatan dari komunitas penggiat sungai dan lingkungan dari negara Jepang, Kedatangan ini diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan transfer knowledge dalam hal pengelolaan sungai.

Dengan menyuguhkan beragam acara di atas, diharapkan Festival Ciliwung ke-2 ini dapat memberikan suguhan menarik buat para pengunjung yang hadir. Lebih jauh lagi, gaung acara ini bisa dilirik  calon wisatawan maupun pengunjung untuk meramaikan dan mendukung pariwisata di kawasan Condet, Jakarta Timur. Bersihlah sungai Ciliwung, makmurlah warga sekitarnya. *** (rilis)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)