Husada

BNN

Empati, Modal Penting Tenaga Kesehatan Layani Pengguna Narkoba

Administrator | Rabu, 04 Juni 2014 - 05:26:44 WIB | dibaca: 1459 pembaca

Prof. Akmal Taher, Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, di sela-sela kegiatan Forum Komunikasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba dan Pergelaran Seni dan Budaya yang digelar Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), di aula Prof. Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (3/6). Foto : Humas/BNN

JAKARTA (Parahyangan Post) -- Dalam perspektif kesehatan, pengguna narkoba adalah pasien yang harus dirawat, dijaga dan dilindungi kerahasian rekam jejak medisnya oleh para petugas kesehatan baik dokter maupun perawat. Salah satu modal penting yang harus dimiliki oleh petugas kesehatan dalam melayani pengguna narkoba adalah empati.

Hal ini disampaikan Prof. Akmal Taher, Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, di sela-sela kegiatan Forum Komunikasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba dan Pergelaran Seni dan Budaya  yang digelar Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN), di aula Prof. Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (3/6).

“Dengan empati, petugas kesehatan akan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh pasien (pengguna narkoba), sehingga mereka bisa memberikan pelayanan yang prima dalam rangka memulihkan pasiennya dari masalah adiksi yang menjeratnya”, ungkap Akmal kepada peserta diskusi yang didominasi perawat dan mahasiswa bidang keperawatan.

Dalam kesempatan ini, Akmal mengatakan dalam rangka penanganan masalah pengguna narkoba, langkah rehabilitasi memang jadi pilihan yang terbaik. Untuk mendukung hal ini, Kemenkes telah menyediakan 274 Institusi Penerima Wajib Lapor, baik rumah sakit, puskesmas serta lembaga rehabilitasi medis milik pemerintah atau swasta.

Permasalahannya, IPWL belum cukup ‘laku’ untuk didatangi para pengguna narkoba. Kepala BNN, Anang Iskandar mengungkapkan, saat ini tidak banyak pengguna narkoba yang bersedia datang karena mereka masih memiliki sejumlah kekhawatiran, seperti takut ditangkap dan hal-hal lainnya.

“Jika pengguna datang secara sukarela melaporkan dirinya ke IPWL, mereka akan dapat bonus berupa bebas dari pidana”, imbuh Kepala BNN.

Mengatasi hambatan minimnya para pengguna yang datang untuk melaporkan pada IPWL, membutuhkan strategi yang cermat. Dalam aspek pencegahan, kegiatan forum diskusi dan pergelaran seni budaya seperti ini bisa menjadi salah satu cara yang tepat untuk memberikan wawasan dan pencerahan pada masyarakat bahwa pengguna tidak perlu takut untuk melaporkan dirinya, karena dijamin tidak akan dipidana dan justru akan mendapatkan layanan perawatan atau rehabilitasi.

Karena itulah, Kepala BNN berpesan pada seluruh peserta dari kalangan petugas kesehatan untuk menjadi ujung tombak dalam upaya penyelamatan pengguna narkoba.

 (pp/rat/rls)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)