Seni Budaya

Bang Lantur Menjaga Ciliwung dengan Pendekatan Seni Budaya

Demistifikasi Folklor Ciliwung

Administrator | Jumat, 29 November 2019 - 08:23:22 WIB | dibaca: 152 pembaca

Bang Lantur pendiri Padepokan Ciliwung-Condet. (foto aboe)

Jakarta, parahyangan-post.com-Cerita rakyat (folklor) berbau mistik sangat banyak terdapat di sepanjang aliran sungai Ciliwung. Bahkan masih  ada masyarakat yang mempraktekkan tradisi itu untuk mengusir setan jahat yang meminta korban jiwa. Misalnya upacara tebar kembang 7 rupa dan telur ayam kampung untuk mencari korban hanyut atau hilang.

Cerita-cerita mistik dengan ending mengerikan itu membuat masyarakat menjauhi sungai. Mereka tidak peduli dan enggan terlibat menjaga kelestariannya. Mereka menganggap sungai sebagai musuh. Makanya sungai dijadikan tong sampah tempat pembuangan semua limbah, terutama limbah domestik.

Mindset atau pola pikir  seperti itulah yang harus diubah sehingga masyarakat peduli dan mencintai sungai. Cara mengubahnya adalah dengan seni, dengan kebudayaan. Percuma pemerintah membuat bermacam-macam peraturan kalau kultur masyarakatnya tetap seperti itu, ” tutur Bang Lantur, dalam bincang-bincang santai  dengan wartawan parahyangan-post.com dan tim Mobille  Arts for Peace (MAP) Indonesia, pimpinan DR Harla Octarra, akhir November lalu.

Seperti contoh, lanjut Bang Lantur,  beberapa waktu lalu ada anak umur 10 tahunan ingin mandi-mandi di sungai. Setelah meloncat dia tidak muncul-muncul. Teman-temannya panik dan memanggil orang sekampung untuk mencarinya. Setelah dicari si bocah tetap tidak ditemukan. Bahkan  sampai berhari-hari mayatnya pun tidak kunjung mengapung. Masyarakat heboh dan mencari sampai kiloan meter ke hilir namun tetap tidak ada.

“Lantas apa yang dilakukan?  Masyarakat kemudian melakukan upacara tebar kembang 7 rupa, bakar menyan dan telur ayam kampung 7 butir kemudian dilarung,” terangnya.

Beberapa hari kemudian mayatnya mengapung, tidak jauh dari tempat dia tenggelam. Masyarakat tentu yakin munculnya korban adalah berkat upacara yang dilakukan.

“Nah, ini kan tradisi. Cerita yang awalnya entah dari siapa, kemudian dikembangkan terus sehingga menjadi kebenaran, dan selalu ada pembenaran untuk menguatkannya.  Padahal kalau masyarakat mengerti tentang tekstur (isi) di dalam sungai mereka akan berpikir lain,” terang Bang Lantur.

Harus dipahami, lanjutnya,  beberapa tahun lalu, di dekat anak tenggelam itu,  ada proyek revitalisasi sungai Ciliwung, yaitu pengerukan untuk menghindari pendangkalan. Alat-alat berat (begho) mengeruk pinggir-pingir sungai sangat dalam, sementara yang di tengah dangkal.

“Si anak melompat karena dikiranya pinggiran itu dangkal. Apa yang terjadi? Tubuhnya tenggelam ditelan lumpur yang menutupi bekas galian alat berat tersebut,” tutur Bang Lantur. 

Penjaga Ciliwung 

Bang Lantur (50), adalah tokoh muda Betawi yang sangat peduli terhadap kelestarian sungai Cliwung. Caranya agak berbeda dengan tokoh-tokoh lain yang juga peduli. Bang Lantur melakukan pendekatan  seni dan budaya.

Makanya sejak 4 tahun lalu Bang Lantur dan rekan-rekannya mendirikan Padepokan Ciliwung-Condet, yang berlokasi di Jl. Munggang  no. 53, RT 10/RW 4, Bale Kambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Padepokan Ciliwung Condet berdiri di atas lahan seluas lebih kurang 3500 m2. Awalnya lahan tersebut adalah tanah kosong yang selalu dipenuhi sampah, terutama setelah banjir usai. Karena lahan itu memang langganan banjir. Jadi tidak baik digunakan sebagai daerah hunian.

Dengan semangat pantang penyerah  Bang Lantur menyulap lahan kumuh itu menjadi arena bermain yang menarik bagi anak-anak. Bang Lantur mendirikan saung-saung, musholla,  lapangan bola, kebun, arena pencak silat, sarana olah raga dan seterusnya. Sehingga padepokan Ciliwung-Condet selalu ramai setiap hari oleh anak-anak dan aktivitas kesenian.

Kini Padepokan Ciliwung-Condet menjadi salah satu destinasi wisata alam yang terkemuka di sepanjang bantaran kali Ciliwung. Bang Lantur sudah dua kali menyelenggarakan Festival Ciliwung-Condet, dan keduanya sukses luar biasa.

“Untuk tahun ke tiga, nantinya Festival Ciliwung-Condet akan kami  memperluas. Ada lahan di sebelah hilir yang bisa kami sulap untuk destinasi wisata yang lebih unik. Tetapi di sana nantinya akan kami khususkan untuk kuliner dan kerajinan khas Betawi,” katanya optimistis.

 Mengapa Seni?

 

“Sebenarnya saya tidak menolak folklor dan cerita-cerita rakyat yang berkembang di sepanjang aliran sungai Ciliwung, yang memanjang mulai dari Ciawi, Bogor sampai Pantai Mutiara di teluk Jakarta. Yang saya inginkan adalah ending-ending cerita yang menyeramkan itu baiknya diubah menjadi happy atau harapan baik,” tuturnya.

 

Sebagai contoh, lanjut Bang Lantur, cerita Buaya penjaga sungai yang selalu menerkam orang-orang yang tidak mau memberi sesajen.

“Bagaimana agar endingnya itu diubah.  Buaya itu marah kepada orang yang selalu membuang sampah ke sungai. Karena sampah itu akan merusak habitatnya.  Bukannya dia marah kepada orang yang tidak memberi sesajen,” harapnya.

Yang mampu mengubah itu, menurut Bang Lantur, adalah  kesenian. Tukang cerita, pendongeng, cerpenis, penyair dan kesenian-kesenian yang berkembang di Betawi. Makanya saya optimistis seni budaya mampu mengubah mindset masyarakat. Mampu membangun opini masyarakat,” yakinnya.

Menurut Bang Lantur, percuma pemerintah  berteriak-teriak, Hooooiiii… bersihkan Ciliwung, jaga Ciliwung… yang mengotori Ciliwung akan kena hukum kurungan, tapi mindset masyarakatnya tidak berubah.

“Juga akan sia-sia dana ratusan milyar rupiah yang digelentorkan Pemda DKI setiap tahunnya untuk membersihkan sungai Ciliwung kalau pola pikir masyarakatnya tidak diubah. Sarana dan prasarana pendukungnya tidak dibangun,” tambahnya.

Melestarikan Ciliwung, menurut Bang Lantur,  harus melibatkan masyarakat, karena yang menikmati, merasakan dan yang menjadi korban kalau terjadi banjir adalah masyarakat di sepanjang aliran sungai.

“Malah saya pernah dengar ada wacana dari pemerintah untuk merevitalisasi sungai Ciliwung dengan cara meluruskan alirannya. Jadi jalan air yang berkelok-kelok itu dipangkas dan diluruskan seperti jalan tol. Ini pikiran apa ini? Mereka berpikir tidak, bagaimana derasnya air bah nantinya jika aliran diluruskan. Itulah makanya yang saya katakan, kalau revitalisasi sungai Ciliwung ini tidak melibatkan masyarakat maka pembangunan itu akan sia-sia,” tegas Bang Lantur.

Seni, menurt Bang Lantur, adalah kekuatan hebat yang mampu mengubah mindset itu. Makanya Padepokan Ciliwung-Condet yang ia dirikan tak pernah henti berkreasi membangun, menggelar dan menampilkan beragam kesenian khas Betawi yang berkembang di sepanjang aliran sungai Ciliwung.

“Orang-orang tua, atau leluhur kita di Betawi  sebenarnya sudah sangat arif memanfaatkan seni budaya atau tradisi untuk melestarikan sungai. Salah satu contoh adalah souvenir pernikahan yang menampilkan roti buaya. Mengapa roti buaya? Bukan roti harimau atau lainnya? Karena mereka tahu Buaya ada di sungai, sungai adalah kehidupan. Dan penjaga sungai itu adalah buaya. Jadi simbol pernikahan masyarakat Betawi yang menampilkan roti buaya itu ada harapan kepada pelestarian kehidupan ,” tutup Bang Lantur.

Bagi Bang Lantur dan kawan-kawan sungai Ciliwung adalah kehidupan, adalah masa depan, adalah warisan alam yang harus dijaga kelestariannya. Makanya mereka bertekad untuk merawat dengan pendekatan seni budaya, yang memungkinkan seluruh lapisan masyarakat ikut terlibat.*** (Ismail Lutan)   

 

Sekilas MAP

 

Mobile Arts for Peace (MAP) adalah praktek sekaligus penelitian yang menggunakan metode metode berbasis seni budaya. Gunanya  untuk meningkatkan partisipasi anak dan remaja dalam pengambilan keputusan. Selain itu juga untuk memberi masukan bagi kurikulum nasional dan kebijakan anak dan remaja.

Proyek MAP telah berjalan di Rwanda sejak tahun 2018 dengan dukungan dana dari Global Challenges Research Fund (GCRF) melalui the Arts  and  Humanities Research Council  (AHRC). MAP memberikan pelatihan dan peningkatan kapasitas di bidang musik, tari dan drama. Sekaligus  mengembangkan ruang-ruang yang  aman, inklusif dan progresif untuk berdialog, mendengarkan aktif dan berbagi cara-cara penyelesaian masalah demi mewujudkan perdamaian.

MAP juga memiliki komitmen untuk mengintegrasikan dukungan dan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dalam semua kegiatannya.

Dalam bulan Desember 2019, pendiri MAP Prof. Ananda Breed dari University of Lincoln, UK, bekerjasama dengan para peneliti dari 4 negara, yaitu Nepal, Rwanda, Kyrbystan dan Indonesia  akan berkunjung ke Jakarta dalam rangka Scoping Visit, atau kunjungan penjajakan lanjutan.

Kunjungan ini guna membangun jejaring pembelajar dengan pegiat seni budaya, praktisi, akademisi, pembuat kebijakan dan organisasi masyarakat yang mau bekerja dengan anak-anak dan remaja, menggunakan pendekatan seni budaya untuk mengkomunikasikan nilai-nilai perdamaian.

Di Indonesia MAP diwakili DR Harla Octarra dari Unika Atmajaya. DR Harla mengajak mengajak beberapa komunitas kesenian untuk ikut bergabung, diantaranya Yayasan Anak Bangsa Indonesia (YABI), pimpinan Denny Kadarusman.*** (Ismail Lutan)

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)