Opini

BUDAYA TRANSFER & BAJING LONCAT DIHABITAT POLITIK KITA

Administrator | Rabu, 01 Agustus 2018 - 17:02:47 WIB | dibaca: 332 pembaca

Oleh : Jacob Ereste
Atlantika Institut Nusantara


Budaya transfer pemain dalam pertandingan sepak bola agaknya telah dianut juga oleh insan poltik kita di negeri saat menjelang musim Pemilu tahun 2019. Tidak cuma untuk para calon dari legislatif tampaknya, tapi juga buat Capres dan Cawapres ikut riuh juga negosiasikan.

Tak hanya tokoh dan pakar dari bidang keilmuan non-politik dan non-tatanegara yang dirangkul dan dipinang, tetapi juga kalangan artis serta pelawak juga jadi incaran.

Sebelumnya, ya tentu saja sudah lebih utama para pengusaha serta para saudagar yang dianggap bisa mengatasi masalah, utamanya untuk mengatasi biaya politik yang tidak murah. Sebab dari berita dan ceritanya yang bersilangan, proses transaksi dan transfer para pemain politik yang amat sangat diharap nampu mendongkrak naiknya jumlah suara pemilih saat pesta demokrasi itu nanti berlangsung bisakah sapat memenangkan para kandidat yang menjadi unggulan. Hingga dengan begitu hasil dari  pertarungan politik dalam Pemilu bisa dimenangkan guna merengkuh kekuasaan.

Jadi jelas sebagai peserta Pemilu -- Pileg maupun Pilpres -- kemenangan jadi tujuan utama dibanding etika dan moral yang harus menjadi muatan tontonan dalam proses pesta demokrasi yang selayaknya  mengusung tata nilai yang patut dijadikan sarana pendidikan bagi masyarakat luas.

Jadi bisalah segera dipaham bila usungan nilai etika dan moral menjadi urutan bilangan  kesekian setelah kemenangan yang menjadi target utama agar dapat berkuasa.

Pilihan cara dan model transfer -- yang berbiaya tidak murah ini -- jelas didorong oleh selera instan untuk meraih keunggulan dalam kompetisi demokrasi yang semakin tidak elegan. Sehingga hasil yang keluar sebagai produknya kelak, bisa menjadi konsumsi yang meracuni akal tidak sehat.

Kecuali itu, birahi menggaet para tokoh dan para bintang yang kurang kompeten dalam bidang politik, pasti akan menibulkan masalah. Ibarat sejumlah bintang iklan dari suatu produk yang tak jelas kualitas mutunya, jelas akan sangat merugikan pihak konsumen. Sebab para toloh dan artis yang direkrut secara instan oleh partai politik ini status dan fungsinya tidak lenih dari sales semata.

Jadi essensi dari masalah yang harus dilakukan dan diperjuangkan oleh partai politik yang merekrut mereka seperti tenaga kerja outwourching, tidak lebih dari robot belaka.

Budaya transfer pemain dalam pesta dekokrasi kita yang diharap bisa semakin berkualitas dan bernas, jelas seperti jauhnya panggang dari api. Tak akan pernah matang serta dapat jadi menu makanan yang sehat bagi rakyat.

Karenanya wajar bila rakyat mulai bersikap kurang perduli pada partai politik, sebab ruang pendidikan serta upaya untuk penyadaran guna mencetak kader yang hehat dan tangguh, tidak pernah dilakukan. Akibatnya, upaya rekrutmen atau menampung pemain politik dari partai lain yang meksrikan diri serta tidak malu melompat pagar bisa diterima tanpa pernah merasa bersalah maupun berdosa. Lebih celaka lagi prilaku serupa itu dilakukan tanpa pernah ada rasa malu, baik oleh pihak pelaku maupun dari pihak partai yang menerimanya.

Jakarta, 1 Agustus 2018

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)