Disaster

BNPB Ajak Awak Media Sosialisasikan Kebencanaan di Tanah Air

Administrator | Kamis, 25 April 2019 - 06:37:44 WIB | dibaca: 207 pembaca

BANDUNG – Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana BNPB mengajak awak media untuk mensosialisasikan kebencanaan. Pengetahuan kebencanaan sebagai bekal sosialisasi tersebut dikemas dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) penanggulangan bencana  bagi awak media atau wartawan.

Sejumlah 33 awak media dari berbagai media massa mengikuti diklat sebagai rangkaian kegiatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2019. Awak media tersebut memiliki peran untuk menginformasikan dan mengedukasikan masyarakat secara luas. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkul awak media karena mereka bagian dari penta helix penanggulangan bencana, yaitu pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media massa.

Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Widjaja mengatakan bahwa awak media juga perlu untuk memahami ancaman bahaya. Hal tersebut dibutuhkan, misal pada saat mereka meliput peristiwa kebencanaan juga harus memperhatikan aspek keselamatan.

“Kami mengharapkan mereka dapat menyebarluaskan mengenai pengetahuan kebencanaan dengan menggunakan bahasa yang dipahami masyarakat,” tambah Wisnu pada Diklat Teknis Penanggulangan Bencana pada Wartawan pada Rabu (24/4) di Lembang Jawa Barat.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan PB BNPB Agus Wibowo menyampaikan bahwa awak media dapat menjadi sumber daya manusia penanggulangan bencana yang kompeten dan profesional serta meningkatkan kualitas peliputan bencana. “Kami mengharapkan diklat ini untuk meningkatkan kemampuan para wartawan dalam memahami lingkup pengetahuan kebencanaan,” ujar Agus pada Rabu (24/4).  

Agus menambahkan bahwa mereka dapat mendorong perilaku pengurangan risiko bencana di masyarakat dan menumbuhkan ketangguhan masyarakat dalam penanggulangan bencana.

Terkait dengan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB), Wisnu mengharapkan gerakan ini dapat memberikan perubahan perilaku masyarakat sehingga terbangun kesiapsiagaan di tingkat individu, keluarga dan komunitas. HKB tahun ini difokuskan berlokasi di wilayah Lembang, Jawa Barat. Menurut Peneliti Geotek LIPI Mudrik Daryono mencatat secara detail Sesar Lembang dengan menggunakan metode tektonik geomorfologi dan paleoseismologi, membagi Sesar Lembang menjadi enam bagian. Panjang keseluruhan dari bagian tersebut mencapai 29 km, mulai dari Cimeta, Cipogor, Cihideng, Gunung Batu, Cikapundang, dan Batu Lenceng. Sementara itu, hasil kajian Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menunjukkan bahwa Sesar Lembang berpotensi terjadi gempa dengan magnitudo maksimum M 6.8.

BNPB bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara masif menyelenggarakan serangkaian kegiatan, salah satunya pemasangan rambu dan papan informasi terkait dengan potensi ancaman bahaya gempa yang dipicu sesar tadi. “Melalui diklat ini, saya memiliki privilege untuk mengajak awak media berkunjung ke Tebing Keraton dalam pemasangan papan bertuliskan Sesar Lembang,” ujar Wisnu.

Di situ terpasang juga QR code yang akan menampilkan info lengkap dan ini dapat digunakan untuk pariwisata edukasi, tambah Wisnu.

Diklat yang berlangsung tiga hari ini menghadirkan narasumber dari BNPB, Geotek LIPI, PVMBG, Harian Kompas dan Agence Frence Presse (AFP). Kegiatan tersebut dilakukan dengan pendekatan teori di dalam kelas dan praktek dasar, seperti basic survival dalam peliputan, pertolongan pertama, penggunaan GPS, trauma healing, pemasangan tenda dan dapur umum.


sumber : umas BNPB










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)