Seni Budaya

BENANG MERAH KITA DAN KEBUDAYAAN

Administrator | Kamis, 12 September 2019 - 08:22:40 WIB | dibaca: 42 pembaca

oleh: Kyai Anom Sukmorogo Sejati
Direktur Prima Daya Laras Farm, Tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah.

Sangat sedikit forum yang membahas kebudayaan. Bahkan terjadi  penyempitan makna dan ruang lingkupnya  menjadi sekedar seni. Memang tidak mudah membahas kebudayaan secara ideal, maupun secara praktikal saja. Butuh kedua pendekatan tersebut.  Mengapa demikian?

Kebudayaan meliputi segenap pemikiran, daya cipta, tata cara dan peralatan yang dipergunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jumlah manusia bertambah dari masa ke masa. Perbedaan ras, suku dan agama serta tempat tinggal telah menjadikan orang menciptakan bahasa baik lisan maupun tulisan. Sejumlah peralatan dibuat manusia untuk meringankan beban dan mengatasi kesulitan hidupnya.

Pada masa awal manusia awal mencona beradaptasi dengan lingkungannya yang dingin pada malam hari, dan panas pada siang hari dengan tinggal di gua gua, sekaligus untuk berteduh dari hujan dan angin. Gua gua alam merupakan cekungan yang ada di ceruk bukit batu masuk sejauh beberapa meter hingga ratusan meter . Di gua gua itu pula mereka menyimpan beberapa alat berburu dan meramu mereka. Di gua gua itu pula sejumlah simbol digambar pahatkan sebagai sistem dokumentasi awal setelah manusia mengenal simbol setelah bahasa tutur lancar.

Pada jaman batu, sejumlah peralatan berburu dan memotong dan membelah kayu diciptakan dengan menggunakan kapak yang dibuat dari serpihan batu tipis yang runcing dan memiliki ketajaman, yang kemudian menjadi dasar dari muculnya teknologi pisau, pedang, gergaji, silet baik yang manual  maupun mesin. Kemampuan memotong kayu di hutan kemudian memungkinkan manusia mulai mengenal budidaya untuk tanaman pangan mereka sehingga mengurangi waktu dan tenaga untuk berpindah menggarap lahan baru atau ladang berpindah (shifting cultivation), Bahkan sejalan dengan penguasaan lahan di pulau pulau padat seperti Jawa, Bali, maka kegiatan perladangan berpindah tidak bisa dilakukan, dan memaksa orang untuk mengerahkan pikiran bagaimana mendapatkan penghasilan dari pertanian dan tinggal menetap. Orang Bali memanfaatkan keindahan alam untuk menarik orang berkunjung dan mengembangkan perdagangan hasil hasil kerajinan rakyatnya serta menunjukan keindahan ritual adat dan agamanya agar juga bisa dinikmati bukan hanya oleh pelakunya, tetapi juga golongan manusia lain dari seluruh wilayah dunia. Bahkan masyarakat Bali berhasil menjadi magnet dunia untuk orang orang datang dan membayar secara sukarela untuk bisa berkunjung dan tinggal di pulau ini selama beberapa waktu tertentu , dan menceritakan kepada temannya untuk bisa berkunjung juga ke pulau itu bersamanya pada kali lain.

Demikian halnya masyarakat Jawa sebagai penghuni pulau subur , masyarakat di sini menghembangkan keahlian budidaya tanaman pangan yang memungkinkan menjadi pemasok dan penyangga pangan nasional. Budidaya tanaman pangan secara intensif di lahan persawahan dan secara tumpangsari pada tanah kering, telah melahirkan budaya pertanian pola tadah hujan sebagai sebuah pemikiran budidaya yang diadaptasikan dengan kondisi alam. Lahan lahan yang kurang subur kemudian diabadikan untuk sarana sarana umum seperti sekolah, kantor pemerintahan, pasar dan juga pabrik pabrik yang lebih berkepentingan dengan lahan sebagai basis bangunan pabrik untuk produksi produk industri mereka.

Ragam produk yang diolah oleh masyarakat jaman pertengahan beruoa sarana pengangkutan di darat dan perairan memungkinkan terjadinya distribusi hasil hasil budidaya tanaman pangan, produk pakaian dan rumah tangga mereka diserbarluasakan melalui pertukaran barang secara barter, transaksi dengan uang kas, hingga transaksi secara digital dengan mengembangkan fasilitas transfer antar bank.

Sebenarnya proses berpikir dan menciptakan produk produk baru serta cara cara baru dalam pengelolaan sumberdaya alam, informasi, ilmu dan teknologi dalam berbagai ragam kehidupan merupakan aktifitas kebudayaan manusia yang terus berlangsung untuk menjawab pertanyaan dan tantangan pertanyaan pikiran pikiran manusia tentang masa lalu , masa kini dan masa yang akan datang secara beradab. Dengan demikian, sebenarnya setiap kita adalah bagian dari sistem kebudayaan dimana kita tinggal, berkeyakinan, bekerja, berusaha, bermasyarakat dan bernegara. Keterpaduan menggunakan daya cipta, daya karsa dan daya nyata itu menjadi tiga modal utama yang makin dipermudah dengan adanya sistem komputerasasi yang memudahkan penghitungan lebih cermat atas rencana rencana perubahan kebudayaan yang hendak diciptakan manusia.

Setiap hari kita berada di ujung perubahan, agar kita bisa menjadi kekuatan perubahan untuk masa berikutnya, untuk makin mengokohkan kita bahwa kita adalah manusia yang memiliki kebudayaan dan memperharuinya secara terus menerus. Tantangan hidup selalu ada, akal dan ilmu pengetahuan dan teknologi , organisasi dan kelompok kelompok baru adalah produk kebudayaan yang akan membantu manusia mengatasi persoalan dan tantangan jamannya. 

Lantas dimanakah posisi kita dalam perubahan kebudayaan itu?










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)