Edukasi

BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SECARA ISLAMI CARANYA

Administrator | Selasa, 10 September 2019 - 14:50:46 WIB | dibaca: 271 pembaca

Oleh: J. Faisal 
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

 

Khusus bagi keluarga muslim, adalah sangat penting bagi orangtua untuk menanamkan iman, moral dan adab Islam kepada anak-anak mereka. Dengan pembekalan iman, moral, dan adab yang islami, diharapkan anak-anak muslim akan tumbuh menjadi generasi Rabbani yang cerdas dan beriman, serta beradab luhur. 

Untuk mewujudkan itu semua, maka hal yang paling utama yang harus dilakukan para orangtua muslim adalah memberikan pemahaman dan pemikiran yang islami tanpa mendikotomikan ilmu yang ada di dunia ini. Islam tidak pernah mengenal pendikotomian atau pemisahan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama. Meskipun memang ada bagian pengkajian khusus yang terpisah antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. Tetapi itu bukan berarti bahwa ilmu pengetahuan umum tidak ada hubungannya dengan ilmu agama. Sejatinya pendikotomian ilmu ini adalah ciri dari pemikiran sekuler orang-orang Barat yang tidak percaya terhadap wahyu yang diturunkan oleh Tuhan kepada manusia. Wahyu Tuhan adalah sesuatu yang tidak ilmiah dan hanyalah merupakan sebuah dogma bagi mereka. Ketidakpercayaan mereka terhadap agama mereka sendiri juga sebenarnya disebabkan oleh luka atau trauma atas tragedi yang terjadi di dalam agama mereka sendiri pada masa lalu. 

Beda halnya dengan keyakinan umat Islam terhadap wahyu Allah yang dituliskan dalam kitab suci Al Qur’an. Untuk membahas segala hal di dunia, baik dalam masalah
ubuddiyah maupun muamallah, telah tercantum secara sempurna semua petunjuknya di dalam Al Qur,an. Karena itu Al Qur’an disebut juga sebagai kitab Grand Theory, dimana segala jawaban atas permasalahan hidup di dunia telah tercantum di dalamnya dengan sempurna. Termasuk jawaban atas segala permasalahan yang sedang menimpa bangsa kita saat ini, baik masalah ekonomi, politik, keamanan, dan sebagainya. Tetapi jika memang kita belum bisa mendapatkan jawaban atas suatu permasalahan kita di dunia di dalam Al Qur’an, itu berarti karena kita sebagai manusia yang tidak sempurna, yang semata-semata belum bisa sempurna pula untuk memahami Al Qur’an. Bukannya Al Qur’an nya yang belum atau tidak sempurna, seperti pemikiran atau pemahaman kaum Islam liberalis, sekuleris, dan pragmatis. 

Semua firman-firman Allah SWT yang ada
  di dalam Al Qur’an disebut ayat Kauliyyah. Sedangkan tanda-tanda kekuasaan ciptaanNya yang ada di dalam dunia tanpa terkecuali disebut ayat Kauniyyah. Jadi ilmu pengetahuan yang di dapat dari alampun sejatinya merupakan ayat-ayat kauniyyah Allah SWT. Jadi alam semesta ini tidak dipelajari semata-mata karena alam itu sendiri, namun alam diteliti karena ia menunjukkan pada sesuatu yang dituju yaitu mengenal Pencipta alam tersebut. Sebab alam adalah “ayat” (tanda).Jika demikian, apa yang bisa dipisahkan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan, jika semuanya masih merupakan ayat-ayat Allah SWT? 

Ketercerabutan “makna” dan peran alam sebagai “ayat”, sesungguhnya merupakan dampak dari sekularisme sebagaimana disebutkan Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam karya besarnya, Islam and Secularism. Sekularisme telah menyebabkan dicabutnya kesakralan alam dan hilangnya pesona dari alam tabii (disenchantment of nature). Akibatnya alam tak lebih dari sekedar objek, tak punya makna dan tak ada nilai spiritual.

 

Manusia atau ilmuwan yang mempelajari alam lalu berhenti pada fakta-fakta dan data-data ilmiah, tak ubahnya seperti pengendara yang memperhatikan petunjuk jalan, lalu ia hanya memperhatikan detail-detail tulisan dan warna rambu-rambu itu. Ia lupa bahwa rambu-rambu itu sedang menunjukkannya kepada sesuatu.

 

Keberadaan ayat kauliyyah dan ayat kauniyyah Allah SWT semata-semata Allah hadirkan agar manusia menjadi lebih mengenal Allah, dan mendekatkan dirinya kepada Allah SWT (Ma’rifatullah). Dalam Islam, tujuan utama dari setiap pendidikan dan ilmu adalah tercapainya ma’rifatullah (mengenal Allah, Sang Pencipta), serta lahirnya manusia beradab, yakni manusia yang mampu mengenal segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah.

Tujuan belajar untuk sampai pada ma’rifatullah memang sangat ditekankan, sebab Allah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang tidak mampu menggunakan potensi inderawi dan akalnya untuk mengenal Sang Pencipta. Mereka disebut sebagai calon penghuni neraka jahannam dan disejajarkan kedudukannya dengan binatang ternak, bahkan lebih hina lagi (QS 7:179).

 

Cobalah perhatikan sifat-sifat binatang ternak. Manusia yang pandai, tetapi tidak dapat mengenal Tuhannya, akhirnya disamakan sifat-sifatnya dengan binatang! Mengapa? Sebab, pada hakekatnya, jika manusia tidak mengenal Tuhan, maka perilakunya akan sama dengan binatang. Mereka hanya akan menuruti syahwat demi syahwat dalam kehidupannya. Lihatlah, binatang ternak, ia bekerja secara profesional sesuai bidangnya masing-masing. Dengan itu, ia mendapat imbalan untuk menuruti syahwat-syahwatnya. Makan kenyang, bersenang-senang, istirahat, lalu mati.

 

“Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang dan makan-makan (di dunia) seperti layaknya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS 47:12).

 

Dengan demikian, maka untuk bisa belajar dan menguasai ilmu pengetahuan secara Islami adalah dengan merubah pola pikir atau pemahaman terhadap suatu ilmu pengetahuan ke dalam pola pikir atau pemahaman yang Islami pula. Hati dan otak kita harus Islam lebih dahulu, barulah bisa memahami seluruh konsep ilmu dan kehidupan ini dalam bingkai keIslaman yang benar. Harus ada perubahan cara berfikir (The Way of Thinking), cara belajar (The Way of Learning), cara memahami (The Way of Understanding), dan cara berbuat (The Way of Actuating) yang benar dalam konteks keIslaman.

 

Wallahu’alam bissowab










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)