Opini

Oleh Ismail Lutan*

Asyiik… Hasanah Rindu Dede

Administrator | Jumat, 30 Maret 2018 - 10:46:22 WIB | dibaca: 625 pembaca

Asyiik… Hasanah Rindu Dede

Oleh Ismail Lutan*

 

Judul tulisan ini adalah ungkapan kegembiraan  melihat sepasang kekasih, Hasanah dan Dede  saling merindukan. Namun  jika dibaca di Jawa Barat, maknanya sangat berbeda. Bahkan sangat bertolak belakang.

Mengapa demikian?

Karena masing-masing kata dalam kalimat itu tidak mengandung makna gramatikalnya.

Asyik adalah jargon kampanye Sudrajat- Ahmad Syaiku pada Pilkada Jabar mendatang. Pasangan ini diusung oleh Partai Gerindra dan PKS. Hasanah akronim Hasanudin-Anton Charliyan. Pasangan ini milik PDIP doang. SedangkanRindu adalah Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul, keroyokan  PPP, Nasdem, PKB, Hanura. Terakhir Dede adalah Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, besutan partai Golkar dan Demokrat.

Jelas mereka tidak saling merindu, melainkan sedang perang.  Mereka saling mengatur strategi untuk merebut kursi Jabar 1.

 *

Jabar adalah barometer pilkada 2018 karena pemilihnya yang banyak, yakni lebih dari 30 juta orang. Ada pengamat mengatakan, yang berhasil menguasai Jawa Barat akan menguasai Indonesia. Khususnya dalam menghadapi Pilpres 2019.

Maka tidak heran, segala kemampuan dikerahkan untuk memenangkannya. Mesin partai bekerja maksimal. Dukungan dana dalam jumlah tak terbatas mengalir, baik secara legal maupun illegal. Trik kampanye yang terang-terangan sampai yang sunyi-senyap menjalar, memasuki ruang-ruang privat.

Dan yang tak kalah gregesnya adalah kegalakkan tim-tim sukses memasarkan calonnya dengan melakukan  ‘akrobatik politik yang mengerikan’.

Nah, untuk tim-tim sukses ini terkadang ada dua tujuannya, pertama  murni untuk memenangkan sang calon yang diusung, dan yang kedua secara silent untuk menenggelamkan. Mereka main di dua kaki, bahkan bisa di empat kaki. Kanan kiri oke, yang penting, aktornya  sukses secara fulus!

Dengan mengutip Machiavelli, politikus dan filsuf Italia yang sohor itu, maka apa yang dilakukan dalam kontestasi ini, sepertinya  sah-sah saja. Dalam politik, kata Machiavelli, semua halal. Semua kebohongan sah, termasuk mengibuli Tuhan.

*

Yang perlu dicermati adalah, Jawa Barat dengan  budaya Sunda yang luhung, memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Mereka cepat  menerima ide dan gagasan luar,  terbuka kepada pendatang,  cepat beradaptasi dengan sesuatu yang baru, namun mereka tidak meninggalkan  sikap luhur budayanya, yakni toleransi.

Penulis berkeyakinan sekeras dan setajam apa pun persaingan pilkada di Jawa Barat, tidak akan menimbulkan geger nasional.  Setelah usai nanti,  mereka akan bertaut kembali. Akan ririungan kembali. Siapa pun yang menang tidak akan menjadi masalah, tidak seperti Pilkada DKI. Meski gubernur hasil pilkadanya sudah  dilantik namun suasana masih bara! Sepertinya yang kalah belum ikhlas.

Maka dalam pilkada Jabar ini, membentur-benturkan peradaban tidaklah bijak. Misalnya membenturkan Islam moderat dengan Islam tradisional, atau membenturkan birokrat kota dengan kampungan tidak tidak efektif.

Yang bijak adalah membentur-benturkankan calon untuk tidak korupsi. Ingat! Ditangan KPK masih ada puluhan peserta pilkada  lagi yang bakal diciduk karena diduga melakukan korupsi. Mudah-mudahan tak satu pun diantara yang empat ini, setelah yang terakhir dua calon walikota Malang dan ‘segerobak’ anggota DPRD-nya.

Asyik, kan. Hasanah tetap rindu Dede.***










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)