Edukasi

ARTI KEMERDEKAAN BAGI UMAT ISLAM INDONESIA

Administrator | Sabtu, 17 Agustus 2019 - 16:30:06 WIB | dibaca: 333 pembaca

J. Faisal, M.P d

Oleh: J. Faisal 
Pemerhati pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor

ADA - Sebuah kasus yang menarik yang terjadi ketika pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia dibacakan. Di dalam bukunya Dr. Adian Husaini, Pendidikan Islam, beliau menuliskan bahwa kaum muslimin Indonesia masih merasakan hal yang pahit, ketika pada tanggal 18 Agustus 1945, para tokoh Islam diberi ultimatum untuk menhapus ‚ÄúTujuh Kata‚ÄĚ dalam Pembukaan UUD 1945. Padahal rumusan ‚ÄúKetuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya‚Äô adalah hasil-dalam istilah Bung Karno dalam siding BPUPK-adalah hasil kompromi maksimal yang bias dicapai oleh golongan Islam dan golongan kebangsaan.¬†

Menurut Bung Hatta, kaum Kristen di Indonesia Timur memberi ultimatum, jika ‚ÄúTujuh Kata‚ÄĚ itu tidak dihapus, maka mereka akan menolak untuk bergabung¬† dalam Negara Indonesia merdeka. Sejarah kemudian mencatat, yang dihapus pada tanggal 18 Agustus 1945, bukan hanya ‚ÄúTujuh Kata‚ÄĚ tetapi¬† juga syarat ‚Äúberagama Islam‚ÄĚ bagi Presiden Republik Indonesia. Sejumlah tokoh Islam yang dilobbi oleh Bung Hatta akhirnya menerima ‚Äúultimatum‚ÄĚ tersebut. Rumusan itu kemudian berganti menjadi ‚ÄúKetuhanan Yang Maha Esa‚ÄĚ.¬†

Dalam pandangan Muhammad Natsir, peristiwa tanggal 18 Agustus 1945 itu tidak akan pernah dilupakan oleh umat Islam. Tetapi sikap para ulama dan pejuang Islam di Indonesia sangat ‚Äėmengagumkan‚Äô. Mereka berjuang dengan sangat tangguh dalam melawan penjajah, kemudian berdebat sungguh-sungguh dalam forum BPUPK, menyampaikan pemikiran tentang pentingnya Islam menjadi landasan berdirinya Negara Indonesia Merdeka.

Ketika harus berkompromi, melalui naskah Piagam Jakarta, merekapun menerima hasil kompromi (gentlement‚Äôs agreement) tersebut. Tetapi demi kemerdekaan dan persatuan Indonesia, merekapun ‚Äėmengalah‚Äô. Kecintaan mereka terhadap NKRI menyatu dalam diri mereka, karena itu sudah menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Ini terbukti lagi ketika KH. Hasyim Asy‚Äôari mengeluarkan ‚Äúfatwa jihad‚ÄĚ, Oktober 1945, yang isinya mewajibkan kaum muslimin untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dimana puncaknya adalah pertempuran 10 November 1945 dibawah komando Bung Tomo di Surabaya.¬†

Kini, ¬†74 tahun berlalu setelah kemerdekaan, umat Islam di Negara¬† ini kembali diberikan cobaan oleh Allah SWT, yaitu dengan dibubarkannya organisasi-organisasi Islam satu persatu oleh para segelintir penguasa Negara Indonesia merdeka ini. Alasan pembubarannyapun terkesan dibuat-buat dan mengada-ada, seperti dicurigai akan mendirikan Negara khilafah yang tidak sesuai dengan undang ‚Äďundang dan falsafah Negara, yaitu Pancasila.¬†

Jika kita berfikir secara jernih  sedari awal, bagaimana mungkin tuduhan bahwa organisasi Islam di Negara ini akan mendirikan Negara khilafah dan akan menyingkirkan Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia? Sedangkan para perumus Pancasila itu sendiri pada waktu itu adalah para ulama dan pemimpin yang notabene mayoritas beraga Islam atau muslim, seperti yang telah diuraikan di atas. 

Sekali lagi umat islam telah menerima tuduhan yang sangat menyakitkan dari segelintir penguasa negara yang memang tidak suka terhadap Islam dan kaum Muslimin di Indonesia. Padahal dalam UUD 1945 pasal 28, yang termasuk ke dalam BAB X mengenai Warga Negara dan Penduduk, berbunyi: 

‚Äúkemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang‚Ä̬†

Adapun mengenai kebebasan dalam berserikat termaktub dalam ayat (3) berbunyi sebagai berikut: 

‚Äėsetiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat‚Äô¬†

Jelas sekali bahwa berdasarkan pasal 28 UUD 1945 tersebut di atas, selama tidak melanggar undang-undang, apalagi melanggar Pancasila, maka alasan yang mengada-ada tidak bisa dijadikan landasan atau dasar untuk membubarkan sebuah organisasi atau perkumpulan di masyarakat. Apalagi alasan tersebut tidak terbukti kebenarannya, dengan kata lain memfitnah. 

Tentu saja umat Islam harus berfikiran positif terhadap cobaan dan ujian Allah SWT ini. Artinya Allah SWT tetap sayang terhadap umat Islam Indonesia. Meskipun mengalami tekanan dan fitnahan keji dari para segelintir penguasa Negara ini, umat Islam harus tetap optimis dan bekerja keras dalam mengisi kemerdekaan yang kita nikmati dengan karya-karya yang bermanfaat bagi sesama putra bangsa Indonesia. 

Kesabaran sosial umat Islam dalam berbangsa dan bernegara harus selalu  dilakukan, seperti yang telah dilakukan oleh ulama-ulama pejuang kita dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, seperti yang telah diuraikan di atas. Ketidakadilan harus dilawan dengan cara-cara yang beradab. Sebab jika kita sebagai umat Islam menjadi tidak beradab, lalu apa bedanya kita dengan mereka yang membenci kita nantinya? 

Sekali lagi….Merdeka…AllahuAkbar!!!!!

Wallahu’alambissowab











Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)