Nusantara

Akbar Tanjdung Hadiri Peluncuran Buku Karya Ahmad Fuadi, Tentang Pendiri HMI

Administrator | Rabu, 31 Juli 2019 - 08:37:55 WIB | dibaca: 288 pembaca

Jakarta (Parahyangan-Post.com) - Akbar Tandjung mengenang sosok pendiri HMI yang juga pahlawan nasional, Lafran Pane, yang dalam perjuangannya memadukan komitmen keislaman dan komitmen keindonesiaan. Di mata Akbar, Lafran mendirikan HMI dengan tujuan mempertahankan kemerdekaan dan mengembangkan khazanah Islam. 

"Kita ketahui bahwa Lafran Pane juga pendiri HMI, (pada) 5 Februari tahun 1947, dengan tujuan yang pertama mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, kemudian menegakkan dan mengembangkan khazanah Islam rahmat bagi semesta alam. Islam moderat, Islam yang berorientasi pada kemajuan, Islam yang menghormati kemajemukan dan keragaman. Komitmen Keislaman dan komitmen keindonesiaan itu terpadu secara utuh yang tidak bisa dipisahkan," kata Akbar Tandjung.

Hal tersebut disampaikan Akbar dalam peluncuran buku yang mengulas sosok Lafran Pane berjudul 'Merdeka Sejak Hati' karya A Fuadi di Ruang Serbaguna Perpustakaan Nasional, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (28/7/2019).

Akbar lalu melanjutkan, ekspresi keislaman dari Lafran Pane itu kemudian diaplikasikan oleh kader HMI. Komitmen keislaman dan keindonesiaan itu terinspirasi dari nilai-nilai Islam yang luhur, universal, terbuka, inklusif, sangat moderat, toleran, dan berorientasi pada kemajuan dan menghormati kemajemukan.

"Itulah pengertian keislaman dan keindonesiaan yang dirintis sejak awal pendirian HMI oleh tokoh pendiri HMI, yaitu Lafran Pane, yang pada akhirnya juga dikenal orang cendekiawan Profesor Lafran Pane," ujarnya.

Sementara itu, penulis buku 'Merdeka Sejak Hati', Ahmad Fuadi, mengungkapkan, dia awalnya sedikit bingung untuk menuliskan buku yang menceritakan sosok Lafran tersebut. Menurut Fuadi, banyak momen dan episode yang bagus dalam cerita kehidupan Lafran.

"Sampai kemudian saat saya bikin time line cerita hidup Lafran Pane dari (kecil), bahkan HMI sampai kemudian mendapatkan gelar pahlawan nasional saya lama mikir," ujar Fuadi dalam awal penuturannya terkait buku 'Merdeka Sejak Hati'.

Setelah membuat alur waktu kehidupan Lafran, Fuadi kemudian mendapatkan salah satu hal penting soal hati Lafran yang hampa. Dia mengungkapkan, Lafran sejak umur 2 tahun telah ditinggal mati oleh ibunya.

"Yang terjadi di hatinya adalah sebuah energi besar untuk merdeka. Merdeka dari apa, merdeka dari lingkungannya pertama. Dia merasa nggak punya ibu, dia ingin merdeka dari aturan-aturan orang lain karena dia tidak punya ibu, dia ingin merdeka," katanya.

Dikatakan Fuadi, kemerdekaan yang ada di dalam diri Lafran itu kemudian naik tingkat saat dewasa. Dari tingkat kemerdekaan untuk diri sendiri kemudian naik menjadi kemerdekaan bersama, yaitu kemerdekaan Indonesia.

"Jadi dia naik dari pribadi kepada kemerdekaan bersama dan terakhir menurut saya lagi, interpretasi saya sebagai penulis novel, kemerdekaannya naik lagi tapi dalam bentuk yang berbeda. Dia punya komitmen besar terhadap Islam," paparnya

Menurut Fuadi, Islam bagi Lafran bermakna penyerahan diri. Artinya, kemerdekaan tertinggi bagi Lafran adalah menyerahkan diri kepada Islam.

"Ketika dia menyerah, dia merdeka paripurna. Karena itulah menurut saya, merdeka sejak hati. Dia merdeka sejak hati, dia merdeka sejak nurani, dan ada yang menambahkan dia Indonesia sejak ragawi," imbuhnya.

(mahdi/dtk/pp)

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)