Edukasi

AKAL, IMAN, DAN KEBODOHAN

Administrator | Senin, 16 September 2019 - 11:04:25 WIB | dibaca: 192 pembaca

Oleh: J. Faisal
Pemerhati Pendidikan/Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor


Sejak kecil kita sudah diberitahu oleh orangtua dan guru-guru kita, bahwa yang membedakan manusia dan hewan, dan makhluk Allah lainnya adalah akal. Manusia dikaruniakan oleh Allah SWT akal yang sempurna dibandingkan makhluk Allah lainnya. Artinya, seorang manusia barulah lengkap dikatakan sebagai manusia, jika dia memiliki akal. Dengan akal yang dimiliki, seorang manusia dapat bersyariat dan beribadah untuk membuktikan keimanannya kepada Allah SWT, juga dapat membedakan mana hal yang benar dan mana hal yang salah. Berbeda dengan orang yang kehilangan akalnya, atau orang gila. 

Orang gila tidak diwajibkan bersyariat atau beribadah kepada Allah, karena ketiadaan akalnya. Rasulullah Saw bersabda, 

“Catatan amal diangkat dari tiga jenis orang, orang tidur sampai dia bangun, anak kecil sampai dia baligh dan orang gila sampai dia sembuh dari gilanya”.
(HR. Ahmad). 


Berdasarkan hadis di atas, maka jelas bahwa orang gila di dunia tidak dibebani tanggung jawab menjalankan ibadah atau hukum syara’. Orang gila memiliki status sama seperti anak kecil yang belum baligh sebab mereka tidak memiliki akal. Dan bisa kita bayangkan sampai dimana kualitas akal manusia normal yang memerintahkan orang gila yang tidak berakal untuk mengambil sebuah keputusan, seperti ikut mencoblos dalam proses pemilihan umum di bulan April 2019 kemarin. 

Jika demikian. meskipun pada dasarnya jika seorang manusia yang masih memiliki akal tapi dia tidak mau bersyariat atau beribadah kepada Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, maka resmilah dia menjadi seperti orang gila, karena keduanya sama-sama tidak menggunakan akalnya untuk bersyariat dan beribadah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. 

Atau banyak pula manusia di jaman sekarang yang kebablasan dalam menggunakan akalnya, atau meminjam istilah jaman sekarang, yaitu
lebay, sehingga mereka merasa lebih pintar dan merasa lebih rasional dari Al Qur’an dan Rasulullah SAW. Akal dan pikiran mereka juga  menyatakan bahwa Allah SWT membebaskan manusia untuk memanggil nama-Nya dengan nama apa pun, sesuai dengan selera manusia. 

Mereka juga berpendapat bahwa Allah SWT membebaskan manusia untuk menyembah-Nya dengan cara apa pun, sesuai dengan kreativitas akal dan hasrat nafsu manusia. Maka tidaklah mengherankan
 jika mereka mengambil kesimpulan bahwa agama-agama adalah  ibarat jalan setapak yang berbeda-beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan. Sekilas terdengar seperti perkataan yang indah dan sangat demokratis, tetapi sebenarnya ada kekacauan dalam akal dan pikiran mereka. Itulah cara berakalnya kaum liberalis, dan orientalis laknatullah. Naudzubillah. 

Ada baiknya kita merenungkan satu ayat al-Quran (QS 6:112): 

كَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. 

 
Banyak hal yang terjadi dalam agama kita yang  memang sepertinya tidak masuk ke dalam akal manusia, misalnya seperti mujizat para nabi dan rasul terdahulu, peristiwa isra dan mi’raj Rasulullah, dan masih banyak lagi. Inilah yang membedakan mana manusia yang memang berakal dalam keimanan, dan mana manusia yang berakal dalam kejahilan atau kebodohan. Tentu saja tidak bisa disamakan antara akal manusia beriman seperti Abu Bakas AsSiddiq dan sahabat Rasulullah lainnya dengan akal manusia jahil atau bodoh seperti Abu Jahal, kaum munafikun, dan kaum musyrikin lainnya. Di jaman sekarang ini termasuk kaum liberalis, sekuleris, kaum LGBT, dan kaum-kaum yang merasa ‘lebih pintar’ dari Allah SWT dan Rasul-Nya. 

Manusia yang berakal dalam keimanan pasti akan percaya dengan mukjizat para nabi dan Rasul, atau dengan peristiwa Isra dan Mi’rajnya Rasulullah SAW, contohnya. Mengapa demikian? karena Rasulullah SAW adalah manusia pilihan Allah yang memang tidak pernah berdusta sekalipun, sehingga mendapatkan gelar
Al Amin. Analogi  logikanya sederhana saja. Jika kita ingin mengetahui suatu ilmu, maka kita harus merujuk kepada pendapat manusia yang mempunyai otoritas keilmuan yang memang sudah diakui dan terbukti kebenarannya. Misalnya, untuk memahami sebuah tafsir UUD 1945, maka rujukan yang terpercaya adalah tafsirnya Prof. Dr. Jimly Asshidiqie, bukan tafsirnya Sule atau Andre pelawak. 

Sedangkan Abu Jahal menggunakan peristiwa Isra dan Mi’raj untuk mempengaruhi orang-orang quraisy yang baru masuk Islam untuk kembali lagi keluar dari Islam, karena menganggap peristiwa Isra dan Mi’raj bukan peristiwa yang bisa diterima akal. 

Jika demikian. sampai dimanakah batasan kemampuan manusia dapat menggunakan akalnya untuk mengetahui bahwa sesuatu itu masuk akal atau tidak? 

Menurut kaum orientalis, sesuatu bisa dikatakan masuk akal, jika sesuatu tersebut berwujud, hasil dari ujicoba ilmiah, bersifat empiris dan bersifat rasional. Bagi kita, pemikiran para orientalis
  seperti ini wajar saja, karena memang mereka selalu bersandarkan kepada sesuatu yang nyata, kuantitatif, dan rasional. Mereka tidak akan pernah percaya dengan wahyu Illahiyah, yaitu Al Qur’an. Wahyu hanya dianggap sebagai dogma yang tidak bersifat ilmiah. 

Itulah mengapa kita merasa prihatin dengan pelajaran Sejarah maupun Biologi yang dipelajari oleh anak-anak kita di sekolah. Mereka mempelajari tentang asal-usul kejadian manusia berdasarkan rekaan ilmiah para kaum orientalis, yang ternyata jauh dari fakta kebenarannya. Semuanya hanya mempelajari tentang fisik dan tulang belulang manusia. 

Begitupun dengan pelajaran Biologi, yang hanya mempelajari tentang susunan fisik manusia dan makhluk hidup lainnya tanpa memahami bahwa itu semua adalah ciptaan yang maha dahsyat
  dari Allah SWT. Sejatinya seluruh proses pembelajaran tersebut harus disandarkan lagi ‘jiwa’ nya kepada Allah SWT, sehingga tidak tercipta hasil pendidikan yang bersifat sekuler seperti sekarang ini. 

Bagi kaum yang beriman, wahyu Allah SWT berupa Al Qur’an adalah merupakan sebuah ilmu yang bersifat ilmiah, empiris, kuantitatif dan kualitatif, serta mengandung norma.
Dalam Islam, informasi tentang sifat-sifat Allah, tentang Akhirat, adanya pahala dan dosa, tentang berkah, dan sebagainya, merupakan bagian dari Ilmu. Informasi tentang kenabian Muhammad saw, bahwa beliau menerima wahyu dari Allah SWT, juga adalah merupakan sebuah ilmu. 

Allah SWT berfirman dalam QS 3:19

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. 

Demikianlah disebutkan, bahwa kaum ahlul kitab tidak berselisih paham kecuali setelah datangnya ilmu pada mereka, karena sikap iri dan dengki. Jadi, bukti keberadaan Al Qur’an dan
 kenabian Muhammad  adalah suatu ilmu, yakni suatu informasi yang pasti kebenarannya. 

Dengan demikian, informasi tentang hal-hal ghaib adalah ilmu dan masuk akal. Sebab, informasi itu dibawa oleh manusia-manusia yang terpercaya. Karena sumber informasinya adalah pasti (
Khabar Shadiq/True Report), makan nilai informasi itu pun menjadi pasti pula. sesungguhnya ada tiga cara manusia dalam memperoleh ilmu pengetahuan, yaitu melalui panca inderanya, akalnya, dan melalui berita yang benar (Khabar Shadiq), yaitu Al Qur’an dan Al Hadits. 

 

Wallahu’alam bissowab










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)