Opini

Kolom Ismail Lutan

Diplomasi Rel Layang

Administrator | Sabtu, 03 Agustus 2019 - 01:04:46 WIB | dibaca: 112 pembaca

Hiruk pikuk pesta demokrasi akhirnya usai oleh pertemuan dua pelakonnya di atas kereta MRT. Jokowi dan Prabowo duduk berdampingan menikmati pemandangan kota Jakarta dari atas rel layang antara Lebak Bulus dan Senayan sambil bercanda. Tawa dan kelakar mereka menyejukkan, membuat orang-orang yang melihat ikut senang dan gembira. Seolah-olah diantara mereka tidak ada perbedaan sama sekali.

Ini adalah sebuah diplomasi tingkat tinggi yang brilian. Tinggi bukan karena berada di atas jalan layang, melainkan tinggi dari hasil yang dicapai karena dari pertemuan tersebut para pendukung masing-masing pihak langsung kehilangan taji untuk melanjutkan perang terbuka maupun perang siber.

Mereka yang tadinya  terbelah sangat tajam antara  cebong dan kampret, kehilangan semangat untuk saling menyerang dan menyebar hoax. Mereka pun bingung, siapa lawan siapa kawan. Karena tokoh yang mereka bela mati-matian sudah berpelukan dan bercanda ria di atas kereta.

Memang seharusnya begitulah sebuah pesta, ada awal ada akhir. Ketika pesta telah usai maka peserta harus kembali kepada kehidupan normal. Tiada lagi permusuhan. Tidak ada lagi pihak sana dan pihak sini. Tidak ada ada lagi mereka dan kami.  Yang ada adalah kita. Kita anak bangsa yang harus saling bahu membahu untuk membangun negeri sehingga bangsa ini maju dan sukses. Mampu menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

*

Dalam pesta demokrasi yang berlangsung cukup lama dalam Pilpres dan Pileg kemarin, tidak demikian adanya. Meski pesta sudah usai, dan pemenangnya sudah diketahui, namun permusuhan dan saling serang tetap saja berlangung. Bahkan semakin tajam. Para pendukung belum puas dan terus saling hujat yang membahayakan persatuan nasional.

Permusuhan dan kabar bohong yang disebarkan oleh masing-masing pihak telah menusuk sendi-sendi terdalam dalam kehidupan berbangsa, yakni soal agama dan ras. Dua sendi ini jika diklitik akan cepat tersulut. Ibarat mencabut sumbu kompor gas di tengah api yang menyala, maka dalam sekejap akan meledak yang akan menimbulkan bencana yang dahsyat.

Untunglah ada pertemuan di atas kereta itu, yang membuat pihak-pihak yang  berseberangan kehilangan taji untuk saling membakar. Pertemuan yang bersejarah, yang sekligus merupakan pengakuan atas hasil pesta yang melelahkan. Pertemuan yang akan memulai lembaran baru dalam kehidupan berbangsa.

Dan dari pertemuan itu pun kemudian memunculkan pertemuan lain antara Prabowo dan Megawati. Pertemuan  yang membuat suasana semakin adem dan kondusif.    

*

Pertemuan tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh dan kharisma seorang pemimpin. Hanya dengan berjabat tangan dan saling canda mampu meredam perang urat saraf yang jika diteruskan akan membuat bangunan kebangsaan kita runtuh, karena telah menyentuh sendi-sendi yang paling sensitif.

Kini saatnya kita menatap jauh ke depan. Bangsa ini tidak akan kuat jika dikelola oleh satu kelompok saja. Tidak akan kuat jika dibangun dengan saling hujat dan permusuhan.

Pesta demokrasi hanyalah sarana untuk mencari orang-orang terbaik untuk memimpin, jika orang tersebut  sudah diketemukan maka saatnya kita mulai melangkah. Mulai berjalan dengan kencang dan melaju secepat laju kereta di atas rel layang.***










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)