Opini

Renungan Tahun Baru

Batas Imajinasi, Oleh Ismail Lutan

Administrator | Rabu, 27 Desember 2017 - 07:12:25 WIB | dibaca: 264 pembaca

Sebenarnya tidak ada batas yang nyata di pergantian tahun 2017 ke 2018. Malam berlalu seperti biasa, sepi dan hening. Loncatan jarum jam di penghujung angka 12 ke angka 1 malam itu, sama dengan loncatan jarum jam sebelum-sebelumnya. Selalu berdetak tak…tak… tak…

Tak ada dentuman yang lebih dahsyat yang membuatnya bergema, memecah langit.

Lantas mengapa kita sangat antusias menunggunya? Yang seolah-olah pada malam itu ada batas yang nyata antara angka  17 dan angka 18. Bahkan  seolah-olah ada pintu pintu, yang di luarnya ada cahaya terang benderang. Atau seolah-olah ada tebing tinggi yang di depannya menganga jurang dalam?

*

Batas itu hanyalah imajinasi…

Sebagian kita membutuhkan imajinasi lebih nyata untuk memberi batas perjalanan. Antara ada dan tiada, antara yang lama dan yang baru dan antara yang belum dan yang akan.

Kita membutuhkan pijakan untuk meloncat. Pijakan itu adalah garis waktu yang kita uat sendiri.

Kita yang mampu melihat garis batas antara yang lama dan yang baru, antara yang ada dengan yang tiada, antara yang belum dan yang akan,  ingin meloncat jauh. Meninggalkan masa lalu dan meninggalkan bayang-bayang nan tak elok diingat.

Kita ingin melompat jauh sekali,   melewati batas lompatan yang pernah kita lakukan sebelumnya. Sehingga kita yang sekarang dan kita yang kemaren ada jarak, ada tembok, ada pembatas.

Kita ingin berada di luar pintu yang lebih terang. Kita ingin berada di seberang tebing curam.

Kita ingin meleset jauh… jauh sekali.

*

Batas itu hanyalah imajinasi…
Batas itu akan selalu menjadi pijakan jika kita mengingatnya, bahwa kita telah meloncat dari sebuah masa ke masa yang lain. dari sebuah tempat ke tempat yang lain.  Bahwa kita telah menjauh dari masa yang lalu dan tempat yang jauh. Kita ingin ada garis pemisah yang nyata.

Batas itu akan selalu menjadi energi, akan selalu menjadi api yang membara, yang akan membakar semangat juang untuk bertarung mati-matian. Melepas belenggu yang mengungkung.

Jadi, kita yang ingin meloncat, memisah diantara garis waktu perlu energi yang lebih besar untuk berada di seberang.

Energi itu adalah imajinasi….

Dan kita yang berada di seberang waktu adalah kita yang berjuang. Kita yang selalu bergerak. Kita yang selalu gelisah dan tidak pernah merasa nyaman oleh sebuah capain, karena hidup selalu bergerak.

Hidup yang tidak bergerak adalah kematian.***










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)